Penulis: Luthfi Hamdani

Kalau ada kesempatan kumpul di acara haul kyai begini, modelan santri seperti kami, memanfaatkan momen sebaik mungkin: ngopi, me-recall kenangan tahun-tahun ketika berada se-kamar, se-komplek, se-nampan makanan, se-sekolah. Juga momen saling gojlokan kisah hidup pasca pesantren.

Rutinitas di pesantren menyebabkan orang-orang model begini punya keterikatan emosional yang se-level lebih tinggi dibanding teman biasa di sekolah, di kampus, bahkan mungkin dengan pacar dan istrinya kelak. Itu juga yang mendorong kami perlu merayakan setiap kesempatan berkumpul.

Tentu tujuan utama datang dari kota-kota yang jauh ndak lain guna memperbaiki ‘alaqah bathiniyah’ (keterhubungan spiritual) dengan almarhum kyai dan silaturrahmi dengan dzurriyah beliau.

Output pesantren tentu macem-macem, di semua pesantren. Ada yang pandai (alim/faaqih), ada juga yang tidak. Ada yang perjalanan hidupnya pasca pesantren lurus-lurus saja, ada yang belok-belok, naik turun, zig-zag. Ada yang jadi ahli ibadah dan baik (shaleh/aabid) ada juga yang biasa saja, ada juga yang malah belepotan.

Tapi keinsyaafan untuk hormat pada kyai (juga guru-gurunya kyai) susah pudar. Saya ingat satu pesan salah seorang ustaz dulu ketika menjelang lulus: “Wes sak gak iso-iso ne ngaji, paling ora kongkon mimpin tahlilan iso. Karo lak onok acara haul, teko.!”

Disisi lain, di pesantren begini jugalah transmisi pemahaman keislaman yang ‘hubbul wathan‘ (cinta tanah air) dan moderat itu diwariskan. Pesantren tradisional disebut dalam banyak tulisan sebagai lembaga pendidikan khas yang pertama kali ada di Indonesia, jauh sebelum ada sekolah-sekolah.

Maka, misalnya santri lulus lalu kuliah dan ketemu pengasong khilafah atau modelan kelompok takfiri, mereka ndak tertarik: setidak pandai mereka apapun dulu di pesantren.

Apapun itu, menjadi santri berarti juga mengemban misi ideologis Aswaja: yang selanjutnya termanifestasikan dalam pilihan politik, gaya bergaul, cara berpikir, pilihan produk yang dikonsumsi dan sebagainya. Tentu ndak semua jadi pemimpin. Orang-orang seperti kami cukup jadi bagian kecil dari keulamaan kyai dan gus Ploso, atau misalnya Gus Mus, gus Baha, kyai Said Aqil. Dengan segala misi perjuangan mereka.

Saya juga pernah baca laporan dari World Happiness Report (WHR) publikasi tahun 2018. Indonesia ada di posisi 96 dari 156 negara yang diteliti. Uniknya, karena GDP per-kapita kita rendah, kebahagiaan orang Indonesia ditunjang oleh tingginya social support yang dalam publikasi tadi diwakilkan oleh pertanyaan:

“Kalau kamu lagi dalam masalah, kamu punya atau tidak teman atau saudara yang bisa bantu kamu, dengan atau tanpa kamu minta?” Solidaritas model begini tentu tumbuh subur di pesantren. Hehehe

Banyak catatan lain, lain waktu saja. Kopi saya keburu dingin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.