ORANG KETURUNAN TIONGHOA DI INDONESIA SELALU KAYA?

0
108
Sumber gambar: tionghoa

Jika anda memperhatikan 10 orang terkaya di Indonesia, maka bisa dipastikan akrab dengan nama-nama seperti Robert dan Budi Hartono, Eka Tjipta Wijaya, Anthony Salim dan Muchtar Riady. Yang sama dari mereka adalah kesemuanya keturunan Tionghoa-Indonesia.

Sebelumnya, ingin penulis sampaikan bahwa tulisan ini sama sekali tidak bertujuan menampilkan prasangka rasial, tapi mari mempelajari bagaimana kesuksesan mereka terbangun.

Lalu muncul guyonan ditengah kita: “Orang keturunan Tionghoa kaya sebab mereka pelit dan sangat perhitungan.”

Dari populasinya bedasarkan sensus 2010, orang keturunan Tionghoa Indonesia berjumlah sekitar 2,832,510. Atau 1,2 persen dari total populasi masyarakat Indonesia.

Kemakmuran keturunan Tionghoa Indonesia ini sudah dimulai sejak masa penjajahan Belanda. Sebuah artikel yang ditulis Sanderson Beck memberikan penjelasan sebagai berikut:

”Orang Tionghoa yang merupakan 2% dari populasi memiliki 20% kekayaan. [Orang Indonesia yang tergabung dalam 97% hanya memiliki 20%.] ”

Dan sementara artikel yang sama menyatakan bahwa 1% dari populasi, penguasa kolonial, menguasai 60% sisanya, ketika pemerintahan kolonial berakhir, siapa yang tersisa dengan uang paling banyak? Orang Tionghoa tentu saja!

Beberapa faktor misalnya kenapa orang keturunan cina bisa merajai dunia bisnis Indonesia, misalnya:

Pertama, etos kerja, orang keturnan dikenal sebagai pebisnis yang pantang mundur. Disisi lain juga mereka kaya karena bekal mentalitas perantau yang berjibaku melakukan apa saja untuk memenangkan hidup. Mereka kaya karena di masa Orba tidak boleh menjadi ABRI maupun pegawai negeri, sehingga mayoritas di antara mereka menempuh satu-satunya jalan yakni berdagang.

Kedua, Faktor lain, tentu saja misalnya diungkapkan oleh Prof. Vedi Hadis dimana pada awal masa Orba banyak keluarga Tionghoa difasilitasi negara untuk membangun kerajaan bisnis mereka.

Mereka memang sengaja dibesarkan Orba, sehingga kemudian para konglomerat Indonesia didominasi oleh keturunan Tionghoa. Langkah itu ditempuh rezim Suharto karena blue print yang cerdik.

“Meski kelompok minoritas kuat secara ekonomi, mereka tetap tidak akan melawan kekuasaan karena jumlahnya sedikit. Tapi kalau yang dibesarkan Soeharto adalah kelompok mayoritas, misalnya umat Islam, ada kemungkinan suatu saat mereka akan melawan. Dan, itu ancaman.”  Ujarnya.

Ketiga, sebab keberuntungan. Seorang dosen saya pernah mengatakan, dua prinsip Ir. Ciputra hingga se-sukses saat ini yaitu: jaringan dan kepercayaan pada keberuntungan. Anda tahu lah bagaimana kata hoki begitu akrab dengan orang keturunan Tionghoa-Indonesia.

Keempat, Nepotisme. Tentu dari sekian banyak bisnis yang dimiliki oleh keturunan keturunan Tionghoa-Indonesia, pada masa yang akan datang akan diwariskan kepada generasi penerus mereka. Baik perusahaan keluarga misalnya toko-toko distributor kebutuhan pokok sampai perusahaan yang sudah melantai di bursa saham.

Nepotisme ini juga terjadi misalnya sejak tahun 2015 Indonesia tergabung dalam kesepakatan perdagagan CAFTA (China – ASEAN Free Trade Area). Seiring China menjadi negara yang lebih kuat, orang yang berbicara di cina jauh lebih dibutuhkan.

Dengan kebijakan pemerintah yang meminta investasi dari China dan sudah melakukannya, perusahaan juga berniat membawa pekerja murah mereka dari negara lain.

Kekuasaan ekonomi keturunan China-Indonesia juga menguat sebab keberadaan asosiasi PUSPI yang kemudian menjadi APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) yang sudah didominasi dan diketuai oleh keturunan Cina Indonesia yang paling terkenal adalah Sofjan Wanandy (lahir sebagai Liem Bian Koen), sebagai garis depan untuk melakukan strategi ekonomi baru. Jadi mereka menjadi lebih dan lebih kaya tapi tanpa eksklusivitas lagi.

Lalu apakah semua orang keturuan Tionghoa kaya? Tentu tidak.

Penulis masih sangat sering menjumpai warga keturunan Tionghoa-Indonesia yang yang harus berbelanja ke pasar dengan berboncengan naik sepeda motor butut. Kemudian kesusahan membawa setumpuk barang dagangan.

Atau kalau di kompleks sekitar alun-alun Kabupaten Tulungagung, anda bakal sering menjumpai toko-toko warga negara Indonesia keturunan Cina yang sangat sederhana. Dengan kondisi yang hampir tidak terawat dan perputaran jual beli yang rendah. Toh mereka tetap berdagang.

Jadi, bisa disimpulkan jika ingin jadi kaya, yaa tetap harus usaha, punya relasi yang kuat dan jalani saja, siapa tahu dapet hoki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.