Sumber gambar: NU online

Setelah nonton banyak film dokumenter dan rekaman wawancara Bashar Al Asad, Muammar Khadafi, Saddam Hussein, banyak hal menarik yang bisa ditarik sebagai benang merahnya:

Mereka (semula) pemimpin negara berdaulat, yang sengaja dilabeli diktator, mad-dog, penjahat HAM, dan segala demonisasi lain dari media barat.

Mungkin ada banyak kebijakan yang salah, namun menggerakkan revolusi rakyat dan invasi militer berlabel kontra terorisme yang di sponsori Amerika dan sekutunya juga malah menambah parah situasi.

Bisa dilihat misalnya Afghanistan, Irak, Libya, Yaman. Kalau anda nonton wawancara presiden Suriah Bashar Asad dengan media NBC atau Russsia Today di Youtube, anda bisa punya pandangan yang 180 persen bertolak belakang tentang apa yang terjadi di Timur Tengah.

Selain harus perang di medan tempur, dia musti memerangi persepsi buruk dan propaganda media-media mainstream barat.

Negara-negara tersebut tengah perang sesama masyarakat mereka sendiri. Ada yang terafiliasi ISIS, AL Qaeda, Al-Nusra. Ada yang perang sebab sentimen kesukuan.

Perang diperparah sebab negara-negara muslim seperti Turki, Arab Saudi, Iran ikut ribut antar mereka sendiri, pakai proxy. Arab ikut nyerang Yaman, sementara Turki kontra pemerintah Asad.

Kita membenci terorisme, tapi juga gak bisa membenarkan negara lain ikut campur urusan dalam negeri tanpa izin. Gak ada perang baik, semua perang pasti buruk dan memakan korban sipil.

Ukuran benar-salah dibangun atas persepsi dan standar ganda, bukan lagi fakta. Akan sangat susah dihentikan jika terlanjur ada dua pihak saling membunuh, sebab merasa paling benar, dan yakin jika mereka mati mendapat surga.

Di Indonesia, resonansi keributan kita di media mungkin gak seberapa merubah hubungan kita di dunia nyata, berupa interaksi langsung.

Tapi meributkan perkara remeh temeh dan ‘sampah’ terus menerus, juga membangun ketidakpercayaan pada pemerintah yang berdaulat tentu juga tidak bagus. Apalagi di embel-embeli slogan ‘perang media sosial’, ‘bela tauhid’.

Potensi ekonomi Indonesia terlalu besar untuk dibiarkan jatuh dan chaos. Dari negara-negara Middle East and North Africa Region (MENA) tadi, kita bisa ngambil pelajaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.