Oleh: @luthfiham

Saya termasuk beruntung pernah terlibat dalam banyak obrolan menarik dengan banyak orang. Lebih menarik lagi bila terjadi berkaitan dengan suasana yang ‘dalam’, seperti: keresahan, kegagalan, ketakutan, ketidaktahuan harus bersikap bagaimana. Dalam banyak topik, mulai asmara, karir, kuliah, kebingungan teologis, keuangan sampai kematian.

Menceritakan kisah-kisah seperti ini sering terasa tidak nyaman. Jangankan bercerita langsung, berjumpa teman lama lalu tiba-tiba ditanya: “Sudah menikah? Kerja dimana? Gajimu berapa? Masih bingung apa alasan Tuhan menciptakanmu? Ini semester terakhir, apa rencana/opsimu?”, banyak yang jadi ndak nyaman. Jadi insecure. .
.
Sejak itu saya terobsesi untuk melakukan observasi pada kisah-kisah sederhana, dari orang-orang biasa. Orang-orang yang lama saya kenal atau orang baru kenal yang tiba-tiba mengalir saja obrolan sampai jauh. Kuncinya adalah skill komunikasi interpersonal, punya cukup wawasan untuk menebak bagaimana bangunan logika dan alam pikiran lawan bicara dan jangan mengintervensi jika tak diminta.

Saya belajar banyak hal. Pertama, kebanyakan orang malu menceritakan hal-hal bahagia yang mereka rasa dan alami. Dalam banyak kasus, jika diprosentase, maka cerita bahagia cuma 30% dari seluruh bahan obrolan. Mungkin malu atau sungkan dikira sombong.

Kedua, kebanyakan orang cuma ingin bercerita saja, tanpa tendensi untuk memperoleh feedback berupa masukan, nasihat atau rekomendasi apapun. Mereka seolah bilang: “Kamu dengarkan saja, lalu ajukan banyak pertanyaan yang membuat masalah ini lebih seru, selebihnya biar urusan saya sendiri”.

Tidak banyak yang mau diintervensi/didikte. Kondisi dan situasi psikis semacam ini pula yang mungkin membuat acara cak Nun dan Sujiwo Tejo banyak peminat. Keduanya mengulas banyak problem dengan banyak opsi: selebihnya biar dialektika dan pergulatan masing-masing orang dengan realitas yang jadi jalan keluar.

Terakhir, banyak orang memuji akting J. Phoenix atau H. Ledger sebagai tokoh Joker. Mereka dianggap mampu membawa penonton dalam pergulatan emosi yang dalam, gelap meskipun juga cenderung psychotic. Tapi percayalah, kehidupan nyata sering lebih dalam/kejam dan kita musti menjalaninya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.