Penulis: @Luthfiham

Motor Vario saya adalah penjelajah sejati. Ia telah menyisir jalanan panjang Pantura, mulai ujung Banyuwangi sampai ke Tegal. Saya punya nazar, kalau selesai urusan di Semarang, motor ini harus sampai ke Jakarta.

Ya Jakarta, ibukota yang sebentar lagi akan digantikan.

Tidak ada ungkapan lain untuk perjalanan dengan motor selain kata menyenangkan.

Lelah? Tentu, tapi semuanya terbayar lunas oleh berbagai pemandangan, tafakur dan berbagai pengalaman baru sepanjang berada di atas jok motor.

Dosen matakuliah pemasaran saya, ketika dulu kuliah di Malang pernah bilang: pengalaman terbaik bagi orang-orang yang sedang berwisata bukan ketika mereka berada di lokasi wisatanya, tapi ketika menikmati pemandangan dan kebahagiaan dalam kendaraan sepanjang perjalanan.

Saya afirmasi pendapat tersebut.

Anda tahu, wahana di lokasi wisata ya begitu-begitu saja. Pantai misalnya, juga begitu saja.

Tapi melihat apa yang terjadi di jalan-jalan, pemandangan gunung, keramaian di Kota (bagi orang desa), atau truk-truk besar pengangkut puluhan motor baru itu menyenangkan. Disitulah kebahagiaannya.

Dengan melakukan touring sendiri pakai motor, saya bisa sekaligus mensyukuri status pernah tinggal di pesantren. Nyatanya, ilmu agama saya memang naggung: Fiqh ndak terlalu paham, nadzam Alfiyah dulu cuma hapal 200 bait, dan sejenisnya.

Tapi yang saya syukuri betul, pesantren membuat saya kenal dan memiliki banyak teman dari berbagai latar belakang, juga berasal dari berbagai daerah. Kami, sebagai alumni yang masih sama-sama jomblo bisa saling bertukar tempat menginap apabila sedang ada di satu kota.

Saya juga percaya betul, bahwa silaturrahmi punya banyak fadhilah: panjang usia banyak rejeki.

Dengan berkunjung ke berbagai jenis manusia, menyambung hubungan baik, lalu bercerita bahagia kenangan masa kecil, atau berbagi kisah beratnya hidup dengan cara santai, maka suasana hati menjadi positif. Kebahagiaan ini yang mungkin menghindarkan kita dari stres dan pikiran berat yang mengundang berbagai penyakit.

*************

Satu topik yang kami banyak obrolkan selama di Tegal, Pemalang dan Pekalongan tentang pernikahan. Saya dan teman seumuran yang kelahiran pertengahan tahun 90-tentu sudah memasuki usia ideal untuk menikah.

“Kalau bisa niru nabi Muhammad lah, gak lebih dari usia 25..”

Begitu kira-kira indikator ideal bagi mereka.

Seorang teman yang tinggal di Pekalongan, yang kemudian memberi saya sepotong sarung batik, meriwayatkan nasehat dari kyai kami dulu, yang baru pertama kali saya dengar:

“Santri sini, kalau pulang pilihannya dua: kalau ndak ngaji ya nikah. Bagus kalau bisa dua-duanya. Kalau ndak begitu, cenderung bakal kembali punya perilaku dan aktifitas seperti orang ndak pernah mondok.” (au kama qiila….)

Saya tidak paham apa alasan beliau memberi nasihat begitu. Namun, bisa jadi sebab beliau mengamati perilaku banyak alumninya. Bertahun-tahun.

Tapi setelah saya perhatikan ulang, beberapa sample teman, nasihat ini benar adanya.

Saya tentu punya pembelaan: masih kuliah juga belum masuk usia 25 tahun.

Disisi lain, menikmati beberapa cangkir kopi sampai dini hari, sambil mendengar cerita mereka ini menyenangkan.

Beberapa contoh, ada seorang teman yang setelah pulang harus mengelola sebuah majelis ilmu, atau madrasah. Mentalitasnya sebagai pemuda seusia saya yang masih ingin menjadi ‘petualang’, harus dikuburnya dalam-dalam. Sebab punya tanggungjawab sosial berupa pengabdian kepada agama dan masyarakat.

Ada beberapa teman yang menceritakan perjuangan mereka untuk menikah. Mulai proses pencarian, kenalan, pendekatan sampai mengumpulkan segenap keberanian bertamu ke rumah calon mertuanya.

Tentu saja, ada yang lancar, ada yang menjumpai banyak kesulitan. Namun di depan cangkir kopi, derita ditolak dan gagal semacam itu adalah kisah yang lucu, cerita yang menyenangkan. Kami bisa saling terbahak-bahak menertawakan satu sama lain. Saling meng-goblok-kan dan sesekali saling misuh.

Kami mampu mengungkapkan sendiri kegelisahan sejenis, tanpa perlu dibantu lagu-lagu Lord Didi Kempot.

Sebagian mereka bilang:

“Kalau sudah di rumah begini, pekerjaan ada ya walaupun nilai ekonomisnya ndak seberapa, saya mau ngapain lagi kalau ndak menikah. Mau main-main ndak jelas juga sudah malu…”

“Saya usaha sudah berbagai macam, mulai batik sampai jualan kendaraan bermotor, urusan hasilnya juga nilainya, biar Allah wae yang ngatur. Penting ihtiar.”

Dalam banyak hal, mereka selain teman, juga guru saya. Di laptop, saya sudah mulai menulis kisah-kisah dan hasil ‘interview’ saya dengan mereka, semoga bisa disusun rapi dalam bentuk buku suatu saat. Kalau sudah senggang.

Teman di pesantren tentu punya kedekatan jauh lebih ‘intim’ dibandingkan teman-teman di SMA atau di kampus. Kami berbagi tempat makan, tempat tidur, bergantian di kamar mandi yang sam. Pagi, siang, malam intensif bertemu.

*************

Dari touring di sepanjang Pantura, saya juga banyak belajar. Pantura punya sejarah panjang, sejak zaman penjajahan. Pantura juga tentu jadi faktor terbesar kenapa kota-kota di pesisir utara Jawa selalu lebih maju.

Lebih maju?

Ya. Coba bandingkan berapa UMK Trenggalek, Tulungagung misalnya dengan kota-kota seperti Gresik, Semarang, Lamongan.

Pantura jadi alasan kelancaran perpindahan manusia dan barang. Jalur distribusi yang bisa jadi terpadat di seluruh Indonesia. Keberadaan jalan ini yang kemudian menunjang sektor industri dan wirausaha.

Saya juga selalu punya keyakinan, Trenggalek jadi kota yang sepi sebab dia ada di jalur buntu. Orang-orang yang bepergian melalui jalur provinsi dari Surabaya via Kediri, lalu mau lanjut ke Trenggalek kebanyakan ya orang Trenggalek sendiri.

Untuk lanjut ke Ponorogo misalnya, atau ke Pacitan: selain harus menempuh jalur pegunungan, mereka juga tidak ada kepentingan. Kalau mau belanja, ya ke Tulungagung atau Kediri.

Tapi, perkembangan dan perbaikan terus-menerus jalanan dari Trenggalek menembus Ponorogo dan Pacitan, pada masa yang akan datang tentu harus bisa mendatangkan investasi yang bisa berdampak positif pada industri dan ekonomi pada umumnya.

*************

Sebagai pemotor, sesering apapun montor anda masuk servis dan mendapatkan perawatan, tidak akan menghindarkan anda dari risiko kehujanan dan kepanasan. Juga satu ancaman paling menakutkan: ban bocor. (kecuali anda memakai jenis ban tertentu..)

Hal ini jadi analogi sempurna, sebagai manusia jangan pernah sombong.

Jangan merasa mentang-mentang memiliki segala-galanya, lalu lupa bahwa Tuhan punya banyak cara untuk sekedar ‘menjatuhkan’ hambanya yang kumaluhur, sombong.

Banyak tempat bisa dikunjungi, asal jelas kemana tujuannya. Dan perjalanan berikutnya, semoga tidak sendiri.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.