Penulis: Luthfi Hamdani

Sejak dibawa masuk ke Nusantara sekitar abad 14 masehi oleh pedagang dari Arab dan Gujarat, sarung hingga saat ini jadi salah satu simbol keagamaan (islam) paling ‘khas’ Indonesia. Selain songkok hitam tentunya. Walaupun sarung sendiri bisa dipakai untuk berbagai keperluan oleh masyarakat: ibadah shalat, untuk santai di rumah, untuk hadiri acara formal kenegaraan, untuk ke pasar, datang ke acara sosial-keagamaan seperti slametan, pengganti jaket untuk melawan dingin malam, sampai untuk perang-perangan — dengan melipat lancip sarung di satu ujung dan ditali di ujung satunya, lalu saling dipukulkan ke kaki “lawan”. ⁣

Sarung jadi satu atribut yang tidak bisa lepas dari islam ala pesantren, selalu ada ibarat hubungan mubtada’ dan khabar — saling melengkapi. Lalu di tengah datangnya berbagai “aliran” islam (transnasional) dengan beragam sifat, kontroversi hingga atributnya, sarung dan islam ala pesantren menurut saya perlu kembali dijadikan trendsetter dan pendekatan mainstream dalam perilaku hidup sehari-hari masyarakat. ⁣

Walaupun saya percaya identitas tidak pernah tunggal, sarung dan islam pesantren telah jadi satu paket identitas yang mewarnai corak sosio-religius masyarakat sejak berabad lalu. Beragam upaya terkini untuk mengetengahkan pandangan dan perilaku berislam ala pesantren ke ruang publik melalui media sosial dan situs web, bahkan media mainstream seperti TV dan koran, gerakan ini perlu “membawa serta” sarung sebagai identitas fisik darinya. ⁣

Kelak harus lebih banyak orang memakai sarung di ruang publik, sarung jadi satu atribut yang trendi, yang digemari remaja. Tinggal tugas berikutnya adalah membekali pemakainya dengan pengetahuan dan cara berperilaku islam yang moderat, pun cara pikir teologis ala aswaja. Gaya berislam yang damai, yang akulturatif (secara proporsional) dengan budaya tradisional seperti simbol wayang dan batik yang estetis untuk corak sarung, dan islam sebagai rahmat serta selalu bergerak maju — bersama teknologi dan peradaban.

Jadi, kalau pengen beli beragam sarung batik bisa kunjungi instagram @mulia.busana lur. Kaos polos dan baju motif batik seperti yang tak pake, juga tersedia. ⁣haha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.