DIGITIVE; Journal of Digital Business, Management and Accounting adalah jurnal ilmiah akses terbuka dan terakreditasi, diterbitkan oleh Indonesia Imaji Publishing Company.
Jurnal ini memuat artikel di bidang Bisnis Digital dan Kewirausahaan dengan cakupan topik seperti Kewirausahaan, Bisnis Digital, Akuntansi, Manajemen Keuangan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pemasaran, Manajemen Perilaku,
Selanjutnya, juga dibuka submisi terkait topik kecerdasan Buatan (AI) dan otomatisasi dalam bisnis, Tren E-commerce, Transformasi Digital di UMKM, Blockchain dan inovasi fintech, Augmented dan Virtual Reality (AR/VR), Ilmu Komputer, Penambangan Data, Interaksi Manusia-Komputer, Sistem Informasi, Rekayasa Perangkat Lunak, dan topik terkait lainnya.
DIGITIVE; Journal of Digital Business, Management and Accounting didedikasikan untuk memfasilitasi pertukaran ide antara akademisi, praktisi, dan lembaga pemerintah di bidang Bisnis Digital, Manajemen, Akuntansi, Teknologi Informasi, dan Kewirausahaan.
Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun, pada bulan Januari dan Juli. Artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini menyajikan analisis objektif tentang topik Bisnis Digital, Manajemen, dan Kewirausahaan dari perspektif akademis dalam bentuk: (1) Artikel teoretis; (2) Studi empiris; (3) Artikel berorientasi praktik; (4) Studi kasus; (5) Ulasan artikel, buku, dan sumber daya.
Kami mengundang akademisi dan peneliti pada bidang keilmuan dan topik tersebut untuk mengirimkan artikelnya dan mengembangkan (teoretis maupun praktis) topik-topik tersebut di masa yang akan datang. Silakan jika ingin berkontribusi pada edisi berikutnya bisa mengecek tautan berikut: https://jurnal.indonesiaimaji.com/digitive

Berikut beberapa review dari artikel yang diterbitkan pada edisi kali ini:
Analisis Sistem Antrean dalam Meningkatkan Efisiensi Pelayanan Pasien UPT Puskesmas Jaten II Kabupaten Karanganyar
Artikel ini mengupas bagaimana efisiensi pelayanan kesehatan di Puskesmas Jaten II Karanganyar dapat ditingkatkan lewat analisis sistem antrean. Della Hutami dan Marjam Desma Rahadhini menggunakan pendekatan model antrean multi channel-single phase untuk mengukur apakah waktu tunggu dan jumlah loket pendaftaran sudah optimal. Hasilnya jelas: dua loket belum cukup. Rata-rata waktu tunggu pasien masih melampaui standar pelayanan lima menit. Dengan simulasi penambahan satu loket, waktu tunggu turun signifikan dan sistem menjadi jauh lebih efisien.
Di tengah pesatnya perkembangan manajemen operasional berbasis data, artikel ini relevan karena menunjukkan bagaimana metode kuantitatif sederhana dapat memandu keputusan strategis di sektor publik. Dalam era digital yang menuntut pelayanan cepat dan akurat, riset ini memberikan contoh konkret bagaimana optimalisasi pelayanan bukan hanya urusan teknologi tinggi, tapi juga perhitungan dan pengelolaan sumber daya yang cermat. Ini adalah jenis kajian yang dibutuhkan untuk menjembatani antara teori manajemen dan tantangan lapangan dalam pelayanan publik.
Pengaruh Literasi Keuangan, Gaya Hidup, dan Kemudahan Penggunaan terhadap Perilaku Konsumtif Pengguna Shopee Paylater (Survei pada Generasi Milenial Kabupaten Karanganyar)
Artikel ini mengeksplorasi bagaimana literasi keuangan, gaya hidup, dan kemudahan penggunaan memengaruhi perilaku konsumtif generasi milenial di Kabupaten Karanganyar saat menggunakan Shopee Paylater. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan berdampak positif signifikan terhadap perilaku konsumtif, sementara gaya hidup memiliki pengaruh negatif. Literasi keuangan ternyata tidak signifikan, mengindikasikan bahwa pengetahuan finansial belum cukup untuk menahan godaan belanja instan. Temuan ini relevan di tengah maraknya layanan fintech yang menawarkan kemudahan transaksi, tetapi juga berpotensi memicu gaya hidup boros.
Artikel ini penting karena memberikan wawasan aktual tentang dinamika konsumsi di era digital, khususnya bagi pelaku industri dan akademisi manajemen bisnis. Dengan memahami faktor-faktor pendorong perilaku konsumtif, perusahaan dapat merancang strategi pemasaran yang lebih etis, sementara institusi pendidikan dan pemerintah bisa mengembangkan program literasi keuangan yang lebih efektif. Penelitian ini juga menyoroti perlunya keseimbangan antara inovasi fintech dan tanggung jawab sosial untuk mencegah jebakan utang di kalangan milenial.
Pengaruh Social Media Marketing dan Influencer Marketing terhadap Keputusan Pembelian pada Aplikasi Tiktok
Artikel ini meneliti bagaimana strategi pemasaran digital, khususnya social media marketing dan influencer marketing, memengaruhi keputusan pembelian konsumen di TikTok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut berpengaruh signifikan, dengan influencer marketing memberikan dampak lebih besar (koefisien 0,868) dibandingkan social media marketing (0,371). Temuan ini memperkuat peran konten kreatif dan rekomendasi figur publik dalam mendorong pembelian impulsif di platform digital. Artikel ini juga mengungkap bahwa kolaborasi TikTok dengan Tokopedia pasca-penutupan sementara tahun 2023 berhasil memulihkan kepercayaan konsumen, dengan transaksi FMCG melonjak hingga Rp193 miliar.
Penelitian ini sangat relevan di era ekonomi digital, di mana pemasaran berbasis media sosial dan influencer menjadi tulang punggung strategi bisnis. Bagi pelaku industri, temuan ini menegaskan pentingnya investasi dalam konten viral dan kemitraan dengan influencer yang sesuai target pasar. Di sisi akademis, studi ini memberikan bukti empiris tentang efektivitas model Theory of Planned Behavior dalam konteks pemasaran digital. Artikel ini juga mengingatkan akan risiko regulasi, seperti penutupan TikTok Shop akibat pelanggaran aturan e-commerce, sehingga menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan dan praktisi bisnis untuk menyeimbangkan inovasi dengan kepatuhan hukum.
Pengaruh Inklusi Keuangan, Gaya Hidup, dan Pengaruh Sosial terhadap Penggunaan Financial Technology pada Mahasiswa Politeknik Akbara Surakarta
Artikel ini meneliti faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan financial technology (fintech) di kalangan mahasiswa Politeknik Akbara Surakarta, dengan fokus pada tiga variabel: inklusi keuangan, gaya hidup, dan pengaruh sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inklusi keuangan dan gaya hidup berpengaruh positif signifikan terhadap adopsi fintech, sementara pengaruh sosial tidak signifikan. Temuan ini mengungkap bahwa mahasiswa cenderung menggunakan fintech karena akses keuangan yang inklusif dan gaya hidup modern, bukan karena tekanan sosial. Nilai koefisien determinasi (16,5%) menunjukkan bahwa ketiga variabel hanya menjelaskan sebagian kecil penggunaan fintech, menyisakan 83,5% dipengaruhi faktor lain seperti kemudahan teknologi atau literasi digital.
Penelitian ini penting dalam konteks perkembangan industri fintech yang pesat di Indonesia, terutama pasca-pandemi yang mempercepat digitalisasi layanan keuangan. Bagi pelaku bisnis, temuan ini menegaskan perlunya strategi pemasaran yang menekankan kemudahan akses dan gaya hidup digital untuk menjangkau generasi muda. Di sisi akademis, studi ini memperkaya literatur tentang determinan adopsi fintech di kalangan mahasiswa, kelompok yang kurang tersentuh dalam penelitian sebelumnya. Artikel ini juga mengingatkan pentingnya edukasi keuangan untuk mencegah gaya hidup konsumtif yang mungkin timbul dari kemudahan fintech, sekaligus menyoroti perlunya eksplorasi variabel lain seperti keamanan data atau preferensi platform spesifik dalam penelitian mendatang.
Pengaruh Literasi Keuangan dan Literasi Digital terhadap Preferensi Konsumen pada Pembayaran Digital
Artikel ini meneliti bagaimana literasi keuangan dan literasi digital memengaruhi preferensi generasi milenial di Surakarta dalam menggunakan pembayaran digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut berpengaruh signifikan, dengan literasi digital memiliki dampak lebih besar (koefisien 0,266) dibandingkan literasi keuangan (0,200). Temuan ini mengonfirmasi bahwa pemahaman tentang teknologi dan manajemen keuangan sama-sama krusial dalam mendorong adopsi layanan digital seperti e-money atau dompet digital. Penelitian ini juga mengisi celah (research gap) dari studi sebelumnya yang hasilnya tidak konsisten, sekaligus menegaskan pentingnya edukasi finansial dan digital di era transaksi non-tunai yang semakin dominan.
Artikel ini sangat relevan di tengah ledakan fintech dan transformasi digital sektor keuangan Indonesia, di mana volume transaksi e-money mencapai Rp160 triliun pada 2023. Bagi industri, temuan ini menyarankan perlunya kolaborasi antara penyedia layanan fintech, perbankan, dan pemerintah untuk meningkatkan literasi masyarakat. Dari perspektif akademis, penelitian ini memperkaya teori perilaku konsumen dengan memasukkan dimensi digital, sekaligus menjadi dasar untuk eksplorasi variabel lain seperti keamanan data atau pengaruh influencer. Di tengah tren cashless society, artikel ini juga mengingatkan bahwa inklusi keuangan harus dibarengi dengan literasi agar masyarakat tidak sekadar mengadopsi teknologi, tetapi juga bisa memanfaatkannya secara bijak.
Peran Fintech, Literasi, dan Inklusi Keuangan dalam Perilaku Keuangan Generasi Z di Kota Surakarta
Artikel ini mengeksplorasi pengaruh financial technology (fintech), literasi keuangan, dan inklusi keuangan terhadap perilaku keuangan Generasi Z di Kota Surakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi dan inklusi keuangan berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan keuangan Generasi Z, sementara fintech tidak berdampak signifikan. Temuan ini menarik karena mengungkap bahwa akses teknologi finansial saja tidak cukup tanpa pemahaman keuangan yang memadai. Dengan maraknya layanan digital seperti e-wallet dan paylater, artikel ini mengingatkan pentingnya edukasi keuangan untuk mencegah perilaku konsumtif dan mendorong perencanaan keuangan jangka panjang.
Di tengah pesatnya perkembangan industri fintech dan transformasi digital, artikel ini memberikan perspektif kritis bagi dunia manajemen bisnis. Penelitian ini relevan karena menyoroti kesenjangan antara adopsi teknologi dan literasi keuangan, yang menjadi tantangan global. Bagi pelaku bisnis dan regulator, temuan ini menekankan perlunya kolaborasi untuk meningkatkan literasi keuangan, terutama di kalangan generasi muda, agar mereka dapat memanfaatkan fintech secara bijak. Dengan demikian, artikel ini tidak hanya berkontribusi pada ilmu manajemen keuangan tetapi juga praktik bisnis yang berkelanjutan.




