Oleh: @luthfiham

Facebook merawat keterlibatan penggunanya lewat fitur kenangan (Memories) yang mereka munculken di News Feed. Hari ini, foto ini genap berusia dua tahun. Terunggah setelah saya rampung urusan pertanggung jawaban di organisasi. Diedit beberapa teman, disandingkan (sebab mirip) dengan seorang senior yang ya begitulah nasibnya. .


______________
.
Kebetulan saya sore tadi baru nonton film dokumenter berjudul Jagal dan Senyap di Youtube. Satu yang terkenang dari para pemeran di film adalah cara mereka memaknai istilah ‘preman’. Ya, pemahaman umum sepakat bahwa istilah preman punya konotasi negatif, tapi coba mereka “positifisasi” (hehe) dengan menyebut bahwa kata itu punya asal (serapan) dari ‘Free-man’. Bermakna manusia bebas, swasta (gak kerja di sektor publik), apalah.

Di sisi lain, dua film garapan Joshua Oppenheimer ini juga bermain di wilayah kenangan. Memunculkan ulang kenangan gelap bangsa, yang saya haqqul yaqin gak bakal selesai perdebatan: siapa salah siapa benar dalam tragedi pasca G30S/PKI itu. Kuat pesan dari eksekutor (jagal) dan korban yang berhasil selamat bahwa ‘kenangan’ ini gak usah diangkat ulang, yasudah, sudah ikhlas—-

Sial memang, manusia hidup dibekali Tuhan dengan ingatan. Kalau semua sesi kehidupan kita berisi hal-hal bahagia, tentu keberadaan ingatan ini satu hal yang begitu kita syukuri. Tapi ndak, banyak di antara kita musti berjibaku dengan kenangan buruk seumur hidup seperti putus cinta, gagal tes kerja– misalnya juga Anwar Congo bertahan dengan pembenaran bahwa apa yang dulu-dulu ia lakukan adalah benar, walaupun kenangan lamanya kerap menjelma mimpi buruk. Sedangkan nenek tua di film Senyap yang dikisahkan anaknya ‘meninggal’, sampai usia seratus tahun dia tak kuasa menahan tangis setiap terkenang almarhum.
.
Setiap nonton film dokumenter tentang orang-orang yang kalah melawan kekuasaan, termasuk ‘negara’, misalnya juga garapan Watchdoc-nya Dandhy Laksono, saya gak pernah punya intensi mencari benar salah –cukup menikmati pergulatan emosional mereka saja. Sambil prihatin, sesekali tertawa, selebihnya ikut trenyuh dan menangis. Tapi begitulah kenangan, dan Facebook tahu bagaimana ia berubah jadi uang….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.