‘ALAM MANUSIA’ BAND EDANE: KRITIK PEMIKIRAN MANUSIA BERORIENTASI HARTA

0
146
Sumber gambar: MetroLyrics

Penulis: Ghofiruddin (Pegiat sastra dan literasi Trenggalek)

Edane adalah salah satu grup band bergenre Hard Rock asal Jakarta. Grup band yang digawangi oleh Eet Syahranie yang dikenal sebagai salah satu maestro gitaris di Indonesia inimemperoleh puncak kejayaan di era ‘90an.

Sejak berdiri pada tahun 1991 hingga sekarang grup band ini telah menelurkan banyak lagu diblantika musik Indonesia. Salah satu lagu mereka adalah ‘Alam Manusia’ yang merupakan salah satu hits dalam album kedua ‘Jabrik’. Puisi yang ditampilkan dalam lirik lagu ini akan dikritik menggunakan metode penerapan impresionistik dan melalui pendekatan estetik serta sosial.

Daftar lagu dalam Album Jabrik, band Edane.

Estetika atau keindahan ‘Alam Manusia’ ini dapat ditemukan dari diksi atau pilihan kata yang disajikan. Banyak sekali kata-kata atau frase yang bermakna kias dan juga penggunaan gaya bahasa dalam bentuk majas perbandingan personifikasi.

Ada juga penggunaan simbol yang menggunakan alam untuk merujuk kepada suatu sifat yang ada pada diri manusia. Dari balik estetikanya, ‘Alam Manusia’ memuat begitu banyak kritik sosial yang disarikan ke dalam dua hal, yaitu kemunafikan dan keserakahan manusia.

Dua hal ini sering muncul ketika manusia di kehidupan sosialnya berhadapan dengan godaan harta benda. Untuk lebih jelasnya, estetika dan kritik sosial dalam ‘Alam Manusia’ akan dipaparkan bait per bait.

Langit yang jingga

Merengkuh laut utara

Lirih jeritan camar

Mengantar pulang mentari

Baris satu dan duamerupakan satu kalimat utuh. Pemisahan menjadi dua baris ini adalah untuk memunculkan keindahan dalam rima yaitu persamaan bunyi /a/ pada kata jingga dan utara.

Kalimat dalam dua baris ini bermajas perbandingan personifikasi, ‘langit yang jingga’  ‘merengkuh laut utara’. ‘Merengkuh’ atau mengambil secara paksa, atau merebut adalah suatuperbuatan khas yang dilakukan oleh manusia. Namun dalam kalimat tersebut‘merengkuh’ juga dapat diartikan sebagai melingkupi atau menyelubungi.

Baris dua dan tiga juga rangkaian satu kalimat. Majas personifikasi dapat ditemukan dalam ‘lirih jeritan camar’. Jeritan adalah teriakan melengking yang biasa dilakukan manusia dalam keadaan takut.

Namun jeritan camar itu lirih seolah menyiratkan sebuah kedamaian. Kedamaian yang mengantarkan pulang mentari kembali ke peraduan.

Bait satu ini secara umum menampilkan sebuah setting atau latar waktu dan tempat. Latar waktu yang dimaksud pada ‘Alam Manusia’ ini adalah di sore hari menjelang matahari terbenam.

Suasana sore hari yang menenangkan sekaligus menakutkan. Menenangkan karena keindahan pancaran cahaya matahari yang tidak menyilaukan, juga karena saat ini adalah waktu manusia secara umum untuk mulai mengistirahatkan diri dari segala kepenatan aktifitas seharian penuh. Menakutkan karena setelahnya kegelapan pasti akan datang. Terang akan segera direngkuh oleh malam.

Sedangkan latar tempat yang dimaksud adalah Jakarta. Hal ini dapat dideteksi dari ‘laut utara’. Dengan memerhatikan posisi Jakarta pada peta, dapat diketahui bahwa kota ini terletakdi bagian pantai utara Jawa atau yang lebih dikenal pantura.

Selain itu, band Edane yang berasal dan bermarkas di Jakarta sangat mendukung penentuan Jakarta sebagai latar tempat dalam lirik ‘Alam Manusia’. Namun pesan yang disampaikan adalah universal, tidak hanya tertuju untuk orang-orang Jakarta saja, namun juga untuk seluruh manusia di dunia.

Bumipun kian menghitam

Dalam gelegak buih pijaran masa

Larut di jiwa kembara

Di tengah rona haru biru kefanaan

Secara tersurat bait ini berbicara tentang latar waktu. ‘Kian menghitam’, maksudnya adalah malam semakin menjadi yang diiringi dengan menghilangnya sama sekali sinar matahari.

‘Dalam gelegak buih pijaran masa’ yaitu malam dengan cahaya lampu pijar yang menggelegak justru membentuk sebuah bayangan yang jauh lebih gelap dari kegelapan malam yangalami. Ini merupakan simbol ketidaksempurnaan manusia dibandingkan dengan kekuatan alam.

Secara tersirat, bait ini memiliki makna yang dalam. Bumi di bait ini dapat diibaratkan sebagai penghuni bumi itu sendiri yaitu manusia yang sangat tidak sempurna. Manusia yang selalu bergantung kepada alam semesta.

Manusia yang juga selalu bergantung kepada selainnya sehingga dia ‘larut di jiwa kembara’, larut dalam pengembaraan pencarian jati diri untuk memperoleh kesempurnaan hidup.

‘Ditengah rona haru biru kefanaan’ adalah dunia ini dan sifatnya. Dunia ini dan segala yang ada di dalamnya adalah sesuatu yang fana, sesuatu yang tidak kekal, sesuatu yang akan rusak dan menghilang.

Kendati demikian dunia ini bisa membuat ‘rona’ atau kebahagiaan bagi manusia, sekaligus ‘haru biru’ atau kesedihan. Keduanya datang silih berganti. Manusia di dunia tidak ada yangsetiap saat selalu merasakan bahagia, atau sebaliknya setiap waktu dalamkesedihan.

Mengetahui hal yang demikian sudah selayaknya manusia untuk mempersiapkan diri, yaitu bersabar ketika dalam ‘haru biru’ dan bersyukur ketika dalam ‘rona’.

Dalam bait ini juga terkandung estetika dalam bunyi akhir setiap baris atau rima. Rima dalam bait ini dapat dikodekan dengan abba. Menghitam-kefanaan sama-sama memiliki bunyi nasal, sedangkan masa-kembara sama-sama berakhir dengan vokal /a/.

Setiap detik

Perubahan pasti terjadi

Dari tanah ke tanah

Kodrat sang waktu berjalan

Bait ini merupakan penegasan dan penjelasan tambahan dari bait sebelumnya. Kebahagiaan dan kesedihan secara umum bisa dikatakan sebagai perubahan yang pasti terjadi dalamkehidupan manusia.

Hanya saja perubahan itu tidak harus berarti peralihan seperti dari kebahagiaan ke kesedihan atau sebaliknya. Perubahan bisa berupa peningkatan terhadap tingkat kebahagiaan atau kesedihan bergantung kepada usaha manusia. Perubahan itu terjadi setiap detik, setiap saat, bahkan tanpa manusia menyadarinya.

 Semuanya, nasib manusia satu dengan yang lainnya, nasib suatu daerah dengan daerah lainnya, telah dikodratkan seiring dengan waktu yang berjalan. Kepercayaan terhadap kepastian kodrat ini membuat manusia lebih tenang sehingga tidak terjebak ke dalam jurang penyesalan yang dalam ketika gagal meraih suatu tujuan.

Tetapi jika kepercayaan tersebut membabi buta sampai menihilkan usaha, maka akibatnya adalah pembodohan yang berlanjut kepada suatu penindasan yang direlakan.

Dan tatapan mata hati

Mudah berbalik pandang di kehidupan

Kadang bagai malaikat

kadang khianat, umbar nafsu serakahnya

Bait IV inimenceritakan tentang hati manusia. Hati manusia ini diibaratkan memiliki mata sehingga mampu menatap. Maksudnya adalah hati itu mampu menunjukkan atau membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang salah dengan yang benar.

Tetapi di dalam kehidupan,hati manusia seringkali mudah berbalik pandang. Hati manusia seringkali goyah, kadang ia cenderung kepada kebaikan dan kebenaran, kadang juga ia terjebak atau bahkan sengaja menyesatkan diri sendiri ke dalam keburukan dan kesalahan. Ketika dalam kebaikan dan kebenaran, hati itu bagaikan malaikat yang dikatakan sebagai makhluk yang sangat taat kepada Tuhan.

Malaikat selain simbol ketaatan juga merupakan simbol hati nurani yang mengarahkan diri manusia kepadakebenaran dan kebaikan. Namun manusia dan hatinya bukan malaikat sehingga terkadang berkhianat.

Terlebih lagi pada saat dihadapkan pada kepentingan dunia yang bertumpu pada dua hal, yaitu harta dan tahta. Nafsu seringkali mengumbar keserakahan tanpa kendali. Jika sudah begitu segala cara akan digunakan untuk meraih tujuan. Bahkan, jika cara tersebut adalah cara yang buruk dan kejam seperti menipu, merampas, dan membunuh.

Itulah yang tampak dalam kehidupan manusia di zaman ini. Kemunafikan adalah hal yang lumrah. Orang-orang berpikir bahwa munafik itu diperlukan untuk bertahan hidup. Katanya, orang jujur hanya akan hancur. Inilah pola pikir picik yang berhasil ditanamkan oleh kaum-kaum hamba materi, yaitu orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan duniawi.

Saling hantam, saling tindas, dan saling menjatuhkan adalah sebuah kebiasaan yang wajar. Bahkan perang yang merenggut berjuta korban sah-sah saja, jika keuntungan dunia bisa didapatkan, harta dan tahta bisa diamankan.

Hati nurani dan kasih sayang mutlak tidak diperlukan karena keduanya adalah penghambat dalam meraup harta dan tahta tersebut. Keserakahan dan hilangnya kasih sayang ini diungkapkan secara lugas pada bait kelima dan keenam.

Tata krama sirna

Rasa manusianya harta

Fakta berbicara !

Rasa manusianya harta

Rasamanusianya sirna

Kedua bait ini juga menampakkan keindahan dalam rima yaitu bunyi /a/ di setiapakhir baris. Setiap baris dari kedua bait ini juga menampakkan asonansi atau ulangan bunyi vokal yang berurutan di setiap kata, yaitu a-a-a.

Kesimpulan


Puisi di dalam lirik lagu ‘Alam Manusia’ karya Edane telah memenuhi syarat estetika. Estetika atau keindahan puisi di dalamnya tidak hanya berasal dari rima, gaya bahasa dan simbol-simbol yang digunakan.

Ketiga hal tersebut hanya merupakan estetika sekunder untuk menuntun pembaca atau pendengar menggali estetika primer dalam puisi yaitu pesan-pesan kemanusiaan yangdisampaikan. Sudah seharusnya penyair ataupun musisi mengangkat kembali tema-tema kemanusiaan yang lebih universal seperti ditampilkan di dalam ‘Alam Manusia’.

Mereka tidak boleh terpaku hanya kepada tema-tema seputar asmara yang justru menumpulkan ketajaman berpikir dan rasa kemanusiaan penikmat sastra bahkan senimannya sendiri.

Rasa manusianya janganlah hanya berkutat pada harta, hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar semata. Karena jika itu yang terjadi, maka rasa manusianya telah sirna.

Artikel sastra ini pertama kali dimuat pada:  https://sastratepian.blogspot.com/2018/12/alam-manusia-edane-pemikiran-manusia.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.