Penulis : Muhammad Lutfi | Madiun (Santri Tebuireng)

Hari ini mindset berpikir kita adalah bahwa masing-masing atau kita semua adalah penderita Covid-19. Ada yang kentara, ada yang belum kelihatan, ada yang sampai sembuh tidak pernah terdeteksi. Namun, kita semua dan masing-masing adalah gerbong Corona, yang bisa menularkannya ke siapapun di sekitar kita, apalagi yang bersalaman, terciprat batuk kita, atau sekedar bercampur ruangan dengan kita. Tingkat trauma umat manusia saat ini seperti kala terjadi lepra massal.

Sebenarnya, jauh sebelum adanya Coronavirus, sudah duluan ada Bakteri Yersinia Pestis, suatu virus dengan kutu dan tikus sebagai carrier pada tahun 1330 yang mewabah di Jawa, kemudian diimpor ke sepanjang pantai Samudra Atlantik dan membunuh 75 sampai 200 juta penduduk Eropa. Kalau kita hidup di era itu pasti sudah menyimpulkan bahwa Hari Kiamat telah tiba. Wabah Pes kemudian merenggut nyawa penduduk Banten (Kesultanan) dari 100-an rinu menjadi 50-an ribu sekitar 1625. Sebaliknya, kemudian “Maut Hitam” yang mengurangi 30 persen penduduk Inggris dan Belanda diekspor ke Jawa.

Hari-hari ini kita sedang sibuk dan khusyuk dengan Coronavirus yang kita impor dari Wuhan, Negeri China. Memang benar, kita ini, baik sebagai individu, masyarakat, maupun rakyat suatu negara, rasanya belum pernah sekhusyuk ini kepada Tuhan, melebihi pada Corona yang amat sangat kecil itu. Umat manusia dibuat heboh dengan kiriman Allah berupa makhluk yang kecil itu. Itung-itung simulasi Kiamat Kecil. Pun, juga karena itu semua hasil implikasi dari perilaku kita (sebagai manusia) belakangan ini.

Virus itu berasal dari binatang dan bermutasi, lalu menyerang manusia. Masa inkubasi virus tersebut antara 1 hingga 14 hari. Kemungkinan jumlah kasusnya akan terus meningkat. Studi terkini menduga virus tersebut berasal dari ular, belalang, kelelawar, dan satu dua binatang lainnya yang Tuhan ciptakan kayaknya tidak untuk dimakan oleh manusia.

Maka, kita pahami lebih dahulu. Jangan resepsi pengantin. Jangan tahlilan. Jangan istighosahan. Bahkan, jangan Jumatan. Jangan sholat berjamaah. Jangan sholat Ied Fitri. Kita semua adalah biang penyakit. Tak ada seorang pun di antara kita yang mau ditulari, apalagi menulari. Bahkan, pun di dalam rumah kita sendiri harus sedemikian hati-hati dan steril atau murni.

Kita semua biang kerok. Tidak ada di atas bumi ini yang benar bisa mengatakan kalau dia bebas dari penyakit. Setidaknya pembawaan kita adalah karier. Masih ada kemungkinan untuk saling tular dan menulari sesama di sekitarnya. Yang jauh jangkauannya saja masih bisa ditulari, apalagi dekat dengan penderita pandemi. Jangan-jangan bumi yang kita tunggangi ini, juga biang kerok, biang penyakit bagi planet-planet lain di tatanan tata surya.

Akan tetapi, manusia cenderung memiliki potensi ke arah sembrono. Tawakal ada muhasabah rasionalnya. Berani mati ada famili kausalitas (sebab-akibat) dan takut mati ada kompleks probabilitasnya. Berani hidup ada asal-usul dan spesifikasi kasusnya. Tekad dan nekat ada nasab dan juga illat urusannya. Segala sesuatu ada alamatnya, koordinatnya, ruang, dan waktunya.

Masing-masing orang tidak bisa mengelak untuk melakukan pemurnian diri. Kemurnian badan, kemurnian mental, dan rohani. Segala yang kita lakukan, sendiri atau bersama-sama, harus kondusif terhadap pemurnian dan kemurnian itu. Diri sejati ahsanu taqwim karya Allah Ar-Rahman Ar-Rahim sebagaimana nasib dan takdir sejatinya.

Peradaban Kibriya‘, Pengetahuan Congkak

Semakin banyak kisah memilukan dari keluarga yang didera Corona. Juga manusia-manusia aktivitas medsos yang gagah berani pada kehidupan, kepada Tuhan, dan dirinya sendiri–misalnya dengan merespon keluarga yang berduka, “O, si anu itu dibayar untuk settingan berita”–tanpa mengemukakan data apapun. Sungguh sangat mengagumkan jenis respon orang semacam itu. Saya mengategorikannya sebagai bagian dari “keajaiban manusia”. Kok tega, kok berani, kok bisa-bisanya berekspresi-bereaksi seperti itu.

Sebab-akibat dalam kehidupan, seperti tidak ada, “ngundhuh wohing pakerti”, seperti tidak ada simulasi akal pikiran, juga tidak ada kelembutan perasaan ketika mengucapkan sesuatu keluar darinya. Seolah-olah aktivitas medsos adalah kumpulan staf khusus Allah yang 100 persen dilindungi, dijamin dan dicukupi hidupnya oleh Allah. Seperti merasa apa yang keluar darinya itu setengah persen benar atau seluruhnya. Seperti apa yang keluar darinya itu seusai kenyataan dengan keadaan.

Di beberapa daerah, terdapat kejadian yang cukup memilukan. Juga kasihan kepada keluarga korban. Lantaran pasien yang benar-benar wafat karena terpapar Coronavirus–atau mungkin terlalu dilebih-lebihkan, tindakan manipulatif, rekayasa–ditolak secara paksa oleh warganya. Ditolak, diusir, disuruh minggat dengan segala kecaman dan nohokan. Juga berbagai umpatan, seolah korban adalah salah satu dari makhluk Tuhan yang terkena virus dari Wuhan. Bukan virus manfaat, tetapi virus pemantik kuwalat.

Dengan dalih, mereka takut dengan semakin luas dan merebaknya virus melalui medium si mayat itu. Suatu yang horor maha dahsyat yang mampu merubah segala ketenangan dan ke-anteng-an hidup mereka. Suatu keniscayaan bagi si korban untuk siap-siap ditolak jenazahnya dikubur di desanya. Siap-siap dengan prosesi pemakaman tanpa dihadiri keluarga, famili, dan kerabat, hanya beberapa nakes dan seorang modin. Menambah nuansa dan suasana makin horor. Keluarganya siap-siap untuk mau dikucilkan dan dipicingkan kehidupan dan kehadirannya di masyarakat.

Juga kasus penolakan evakuasi di daerah Madiun. Walaupun akhinya, orang tua pasien mengizinkan anaknya dibawah tugas kesehatan setelah sebelumnya engkel-engkelan dengan Bupati Madiun, Ahmad Dawami. Pasien adalah santri di sebuah pesantren di Ponorogo. Lantaran orang tua santri menolak anaknya dibawa untuk dievakuasi dan diisolasi dengan dugaan bahwa anaknya tidak sakit, tidak ada gejala atau OTG (Orang Tanpa Gejala). Serta dugaannya mengenai alat pendeteksi adalah buatan manusia dan bisa jadi terdapat indikasi kesalahan dan rekayasa.

Keluarga pasien tidak hanya menolak, bahkan juga membacakan doa-doa dengan keras dan menuding bahwa bupati telah menyakiti dan dhalim kepadanya. Karena melihat anaknya tidak ada gejala klinis Covid-19. Sontak, kejadian memilukan dan memalukan ini mendapat sorotan publik. Karena keluarga korban gak gablek dengan anjuran (aturan) pemerintahan dan tenaga kesehatan.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Segalanya yang berasal dari Tuhan pada akhirnya akan kembali. Namun, apa yang berasal dari Wuhan hampir tidak kembali ke Wuhan. Wuhan adalah tempat asal-usul, tapi bukan tempat kembali. Mungkin dari Wuhan virus Corona itu menemani tuan rumahnya hingga ke liang kubur. Tuhan menaburkan rahmat, Wuhan menggali perasaan untuk melaknat. Tuhan menanamkan nikmat, Wuhan menancapkan kesumat. Tuhan menyebarkan manfaat, Wuhan memancing kuwalat.

Ketuhanan Yang Maha Esa. Kewuhanan Yang Maha Malapetaka. Tuhan menganugerahkan kekuatan, Wuhan memperluas kelemahan. Nabi Zakaria mengeluh kepada Allah: “Qola Rabbi inni wahanal ‘adhmu minni wasta’alarra’su syaiban” padahal “walam akun bidu’aika syaqiyya”. Wahai Tuhan, badanku lemah, tulang-tulangku rapuh, dan aku tidak pernah ber-syakswangka atau berputus asa apabila berdoa kepada-Mu.

Leave a Reply