Ketika membahas ketahanan pangan, yang sering kita dengar adalah proses impor beras oleh pemerintah dari negara seperti Vietnam dan Thailand. Hal ini terjadi sebab kemampuan produksi kita dianggap masih belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat. Indonesia menurut Septiani (2015) masih menjadi negara dengan tingkat konsumsi beras perkapita tertinggi di dunia. Yaitu diperkirakan sekitar 139 kg perkapita setiap tahun. Pertanian di Indonesia memang perlu untuk selalu menadapat perhatian lebih. Data BPS tahun 2017 menunjukkan pertanian menyumbangkan 13,6% terhadap PDB Indonesia. Bahkan jika dihitung dari hulu ke hilir, diperkirakan sumbangannya pada PDB mencapai 55% (Detik.com). Pertanian di Indonesia diperkirakan menyerap sekitar 45% tenaga kerja (Septiani, 2015). Sektor pertanian sampai hari ini masih didominasi oleh petani kecil (Small Holders)atau dalam terminologi FAO disebut dengan Family Farms (FF). Secara global, Family Farms ini mengisi 90% dari total keseluruhan pertanian (FAO, 2018). Sedangkan di Indonesia, petani kecil yaitu mereka yang memiliki lahan dibawah 0,5 ha juga masih sangat mendominasi struktur sektor pertanian. Terutama mereka tinggal di pulau Jawa. Pertanian Keluarga (Family Farming) menjadi bahan kajian yang menarik beberapa waktu terakhir. Terutama dalam kapasitas mereka yang diperkirakan memproduksi 80% dari keseluruhan produksi makanan dunia (FAO,2014). Selain itu pertanian keluarga menjadi pilihan satu-satunya bagi 80% keluarga miskin dan rawan pangan diseluruh dunia. Ditengah besarnya peran pertanian keluarga dalam menjaga pasokan makanan dunia, beberapa masalah lama masih menghantui mereka seperti alih fungsi lahan pertanian menjadi bangunan perumahan, akses infrastruktur guna proses pengiriman juga masih sering menjadi kendala. Selain itu, penerapan mekanisasi dalam proses pertanian yang diharapkan meningkatkan efisiensi juga masih menghadapi berbagai kendala, meskipun selalu di programkan pemerintah (Septiani, 2015) Sementara itu, FAO dalam laporan tahun 2018 berjudul ‘FAO Work’s on Family Farming: Preparing for the Decade of Family Farming (2019-2028) to Achieve the SDG’s’  memaparkan rendahnya akses perempuan desa terhadap sumberdaya produktif berupa lahan, tenaga kerja, edukasi dan layanan keuangan, padahal peran mereka cukup besar dalam proses pertanian keluarga.
Di negara-negara berkembang, perempuan  mengisi 43% dari keseluruhan tenaga kerja pertanian.
Masalah lain yang dihadapi oleh sektor pertanian keluarga adalah tidak adanya generasi muda penerus yang mau melanjutkan menjadi petani. Hal ini sebab ketiadaan peluang kerja yang bisa di eksplorasi dalam dunia pertanian dan sebab rendahnya perndapatan yang diperoleh dari bertani di bandingkan dengan bekerja di sektor industri di kota-kota. Hal ini pula yang mendorong timbulnya proses urbanisasi. Perubahan iklim juga memilik dampak yang cukup signifikan terhadap produktifitas pertanian. Misalnya fenomena El Nino yang mengubah pola cuaca menurunkan produksi padi. Hal ini sebab pertanian kecil masih sangat tinggi ketergantungannya pada cuaca. Paparan tentang kondisi dan tantangan pertanian keluarga (Family Farming) diatas tentu mengharuskan berbagai pihak untuk terlibat lebih jauh guna menjaga dan mengembangkannya. FAO misalnya menyusun program dengan tema ‘Working for Zero Hunger’ guna mengajak berbagai pihak terkait untuk berkontribusi dalam melestarikan family farming. Di Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia (yang tentu memiliki karakteristik dan tantangan berbeda dengan wilayah lain), FAO menginisiasi negara anggotanya untuk: meningkatkan ketahanan produsen makanan skala kecil terhadap iklim, gejala alam dan tekanan sosio-ekonomi. (FAO, 2018) Pemerintah Indonesia juga berusaha terlibat aktif. Seperti contoh dengan meluncurkan Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (BEKERJA), sebuah upaya mengentaskan kemiskinan di tanah air berbasis pertanian dengan tiga tahapan, jangka pendek, menengah, dan panjang. Sedangkan Popi Septani (2015) dalam project Phd. nya berjudul ‘Family Farming; the Case of Indonesia’ mengusulkan penerapan Agrobiodiversity guna menjaga keberlangsungan pertanian keluarga dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Agrobiodiversitas di definisikan sebagai segala komponen keragaman biologis yang relevan digunakan untuk pangan, dan agrikultur, mencakup varietas dan jenis hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme pada level genetis, spesies dan ekosistem yang berguna bagi keberlanjutan sektor pertanian. Penulis: Luthfi Hamd.