Penulis: Luthfi Hamdani

Memulai usaha kuliner tampaknya masih cukup menjanjikan bagi banyak kalangan. Mulai dari fresh graduate sampai artis-artis terkenal beberapa tahun terahir memilih sektor kuliner untuk menempatkan investasi mereka. Beberapa merek yang bisa disebut cukup pesat perkembangan usahanya seperti Geprek Bensu (Ruben Onsu), Strudel Malang (Teuku Wisnu) sampai kue Princess Syahrini.

Di luar beberapa merek tersebut, ada banyak lagi berbagai jenis produk dengan skala yang lebih kecil. Bisa berupa minuman, jajanan sampai makanan. Hal ini ditunjang data yang dimiliki oleh Bekraf, yang menyebut bisnis kuliner memberikan kontribusi terbesar untuk sektor ekonomi kreatif. (via cnnindonesia.com, 2017)

Dari 16 sektor industri kreatif, ada tiga sektor yang menyumbang 30 persen untuk perekonomian kreatif. Tiga sektor itu yakni kuliner, mode, dan kerajinan. Kuliner memberi sumbangsih hingga 34 persen.

Perkembangan ini juga didorong pula oleh perubahan gaya hidup masyarakat. Sebuah laporan menunjukkan bisnis kuliner secara online (daring) di Indonesia semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kebutuhan dan gaya hidup penduduk yang makin tinggi.

Peningkatan bisnis kuliner terutama dipicu karena kebutuhan masyarakat di kota-kota besar. Selain itu, pola hidup masyarakat yang bekerja hingga malam hari membuat pekerja lebih sering memesan makanan ketimbang makan di rumah. Perilaku tersebut muncul sebab pesatnya perkembangan teknologi dan internet dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, bisnis kuliner sebagaimana bisnis pada umumnya selalu memiliki potensi kegagalan. Apalagi di tengah ketatnya persaingan, banyak yang semakin tidak jelas diferensiasi dan segmen pasarnya. Banyak restoran dan bisnis kue kekinian tersebut yang akhirnya gulung tikar dalam waktu yang amat singkat dan hanya tersisa segelintir saja. Mengutip dari Burhan Sholihin (2019) di media Tempo.co, menyebutkan bahwa berdasar survei hampir 90 persen bisnis baru cenderung gagal.

Kegagalan berkembang yang dialami oleh berbagai pelaku industri kuliner ini tentu disebabkan berbagai faktor. Menurut riset yang didapat okeh Foodizz.id—ini sebuah platform edukasi bisnis kuliner online, ada beberapa kesalahan yang menyebabkan banyaknya pebisnis kuliner di Indonesia gulung tikar, di antaranya:

Manajemen keuangan yang buruk. Banyak pebisnis kuliner, khususnya para pelaku baru, yang tidak menguasai betul masalah keuangan. Padahal keuangan adalah jantung utama sebuah bisnis. Acuhnya pemilik bisnis untuk mempekerjakan seorang staf atau bekerja sama dengan seseorang yang cakap dalam keuangan semakin memperburuk bisnis.

Lemah dalam mengontrol operasional. Operasional sama pentingnya dengan keuangan. Dimana lemahnya kontrol operasional sangat berdampak besar terhadap mutu produk dan efisiensi biaya. Apabila hal ini terabaikan, maka menjadi permasalahan yang semakin membesar.

Kesalahan dalam mengantisipasi kompetitor. Keberadaan kompetitor merupakan ancaman utama di setiap bisnis. Meski misalnya suatu bisnis kuliner telah ‘outstanding’ dibanding kompetitor lain, manajemennya perlu tetap mengantisipasi persaingan.

Kurang pengetahuan dan pengalaman dalam bisnis kuliner. Ini merupakan hal paling esensial yang harus dikuasai oleh seseorang sebelum ia mendirikan bisnisnya. Tanpa pengetahuan dan pengalaman yang cukup, pebisnis kuliner pasti kewalahan menghadapi berbagai permasalahan yang bermunculan sepanjang jalan.

 

MENGENAL DAN KIAT MENJADI FOODPRENEUR

Dalam beberapa referensi ditemukan penulis, mulai banyak pihak yang menggunakan istilah ‘foodpreneur’ bagi mereka yang melakukan usaha di bidang kuliner.

Dikutip dari situs web besthospitalitydegrees.com, kata ini menggabungkan kata ‘food‘ (makanan) dengan ‘entrepreneur’ (pengusaha).

Foodpreneurs adalah individu yang rajin yang menciptakan peluang bisnis mereka sendiri di sektor industri jasa, khususnya dalam segmen makanan. Dimana segala jenis usaha bisnis yang melibatkan makanan dapat termasuk dalam kategori inovatif Foodpreneurs yang luas ini.

Seringkali, istilah ini mencakup mereka yang memproduksi produk di dapur rumah sendiri, kemudian memasarkannya. Juga mencakup mereka yang menjalankan bisnis truk makanan atau membuat industri kuliner dengan konsep kebun komunitas terbuka. Kemungkinan dari Foodpreneurs ini tidak terhitung, dan peluang untuk inovasi serta kreativitasnya sangat besar.

Di tengah ketatnya persaingan dan realita banyaknya pengusaha kuliner (foodpreneur) yang gagal, lalu apa yang benar-benar dibutuhkan seseorang untuk berhasil dalam industri ini?

Jika Anda ingin memulai perjalanan sebagai foodpreneur Anda, Gaurav Bahl (2019) Co-Founder dari Koolchas dalam artikel berjudul ‘How to Be a Successful Foodpreneur?’ menuliskan beberapa petunjuk atau tips penting cukup membantu:

Pertama; menemukan Niche (ceruk pasar)

Bagi anda yang pendatang baru, berusaha tampil sangat menarik, atau menawarkan beragam item yang tidak jelas pada menu Anda sebenarnya bukan strategi terbaik. Preferensi masakan Anda dapat membantu Anda menemukan target audiens yang akan menghargai makanan yang paling Anda tawarkan.

Setelah Anda menemukan basis preferensi makanan itu, Anda perlu memulai penelitian Anda. Lihatlah tren makanan saat ini yang akan membantu Anda dalam merumuskan resep-resep yang sempurna dan juga berbagai buku tentang hidangan.

Bahkan, Anda juga bisa memanfaatkan media sosial untuk  meningkatkan keuntungan Anda; dimana salah satu cara terbaik untuk melacak perubahan tren makanan adalah dengan mengamati perkembangan di Instagram dan Facebook.

Kedua; Buat sendiri Unique Selling Point (USP)

Ada kalanya ceruk pasar yang anda masuki sudah memiliki banyak penawaran, sehingga membuat Unique Selling Point akan menjadi kunci sukses anda dalam menarik konsumen. Anda dapat mengambil contoh pengusaha yang memadukan menawarkan produk makanan sambil menargetkan konsumen remaja yang punya gaya hidup begadang hingga larut malam. Dimana konsumen semacam ini selalu mencari merek yang dapat menawarkan mereka makanan berkualitas. Memasarkan produk dengan Unique Selling Point kepada mereka misalnya menggunakan opsi paket pesanan tengah malam (midnight delivery options) dapat meningkatkan keuntungan Anda.

Ketiga; Pelajari Kompetisi yang Anda Masuki

Ini tentu nasihat klasik, namun selalu jadi saran yang benar-benar tidak boleh dilewatkan- mengidentifikasi pengusaha makanan lainnya dengan penawaran serupa dan kemudian mengunjungi restoran mereka memberi Anda wawasan yang tak ternilai tentang apa yang bisa Anda lakukan terhadap produk makanan Anda.

Terlepas dari itu, Anda juga perlu melihat strategi pemasaran pesaing Anda untuk memahami pasar dengan lebih baik dan kemudian memanfaatkan informasi tersebut.

Keempat; Strategi Harga – Kemasan dan Prototipe

Setelah Anda merancang menu Anda, Anda perlu memastikan bahwa Anda memiliki selera yang akan membantu Anda menilai apakah makanan Anda sebaik yang Anda pikirkan. Undang teman dan keluarga dan minta mereka untuk secara jujur mengatakan kritik mereka.

Setelah Anda siap dengan menu yang sempurna, maka harga dan kemasan Anda yang akan memastikan produk bisa terjual. Anda tidak dapat mematok harga terlalu mahal sehingga konsumen akan memilih melakukan sekali beli atau makan di restoran anda, mereka tidak akan melakukan pembelian ulang. Di sisi lain, Anda tidak bisa memberi harga sangat rendah sehingga Anda tidak memiliki margin keuntungan yang memadai.

Studi pasar secara cepat akan membantu Anda memahami tarif yang sedang berlaku secara umum dan memahami bagaimana Anda dapat menentukan sendiri harga yang terbaik bagi produk anda.

Terakhir namun tidak kalah pentingnya adalah kemasan, ini terutama berlaku ketika Anda menawarkan produk yang diletakkan di rak pajangan dan produk yang berjenis takeaway (beli, bayar, bawa pergi) . Jika demikian, maka kemasan kreatif adalah sesuatu faktor yang akan menarik minat dan akan meninggalkan kesan yang tak terhapuskan di benak pelanggan Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.