Penulis: Ghofiruddin (Pegiat sastra dan literasi Trenggalek)

Semua orang telah setuju, termasuk dirinya sendiri, untuk mengurungnya di dalam sebuah kamar berukuran 2,5 kali 2,5 meter di sebuah rumah tua berlantai dua yang telah berusia 37 tahun. Usianya sendiri belum ada 30 tahun, namun telah ada beberapa uban di rambutnya dan juga di kumis, jenggot dan cambangnya yang semua itu membuat dia terlihat seperti berusia lebih dari 40 tahun.

Semua itu disebabkan oleh pikirannya yang selalu bergejolak; saat mula-mula menginjak usia baligh dia telah jatuh cinta kepada seorang perempuan berambut merah, yang juga adalah tetangga dan kawan dekatnya, dan dia memikirkan apakah itu cinta.

Tubuhnya bergetar dan juga menggeliat memikirkan dan membayangkan perempuan itu, namun karena akalnya telah merambah jauh untuk mengenali ketulusan, akhirnya dia menghentikan diri. Di usia remaja, dia menelusuri tentang cita, tentang sebuah ambisi untuk menjadi seorang yang dikenal oleh khalayak ramai, namun cita itu terhalang oleh sebuah pikiran lain; dikenal banyak orang, tetapi hanya sedikit mengenal orang yang mengenalnya itu sungguh menyedihkan.

Akhirnya dia mengundurkan diri dan menepi, hanya bergaul dengan kata-kata di dalam buku-buku atau kata-kata yang muncul dari gejolak pikirannya, dan sejak 5 tahun yang lalu praktis hanya seorang kawan karib yang selalu mengunjunginya seminggu dua kali (Selasa dan Jum’at) dan benar-benar bergaul dengannya; Pelle.

Dan hari ini adalah hari Jum’at dan seperti biasanya Pelle, lelaki bertubuh dan berwajah kekar ini telah berada di penjara sobatnya itu sebelum pukul 8. Kali ini dia membawa masakan dari neneknya; sebakul nasi hangat, sayur lodeh tahu tempe dan tempe goreng hangat yang agak gosong yang sangat disukai kawannya itu.

Dia masuk rumah tua itu lewat pintu tengah yang tidak pernah dikunci. Memasuki rumah itu dia disambut oleh sebuah hawa istimewa yang begitu dingin dan lembab, dan juga pemandangan; debu-debu di lantai yang telah begitu menebal hingga keramik putih itu terlihat kuning kecoklatan, sarang-sarang laba-laba yang bergelantungan di langit-langit rumah, dan juga sarang tawon ndas yang telah sebesar kepalanya.

Juga ada perabotan-perabotan yang tidak pernah dipakai yang membuatnya selalu berpikir andaikan dia memiliki hak untuk menjualnya ke tukang loak pasti akan sangat menguntungkan. Keinginan yang tidak akan pernah dilakukannya.

Dia terus berjalan menuju ke ruangan paling belakang dari rumah tua itu, yaitu ruang dapur yang lantai keramik putihnya telah dihiasai dengan kotoran-kotoran tokek yang sebesar jempol tangannya, yang membentuk sebuah bentuk salib blontang-blonteng yang aneh. Karena sudah biasa dengan pemandangan dan bau itu, dia terus berjalan untuk menuju tangga yang akan membawanya ke lantai dua rumah tua itu; bagian yang belum sempat disempurnakan oleh yang empunya rumah sebab terlanjur memiliki rumah baru yang lebih layak huni dan lebih mudah merawatnya.

Lantai dua rumah tua itu tidak berkeramik, kecuali sebuah kamar di pojokan yang merupakan ruang rahasia atau penjara sobatnya yang paling dia kagumi itu. Pelle langsung menuju ruangan itu, dan terdengar suara remang-remang musik rock yang diputar dari balik pintu kayu kamar itu.

Tanpa mengetuk dibukanya pintu kamar itu, dan raungan musik rock itu terdengar semakin keras. Telinganya semakin tidak merasa nyaman dengan jeritan suara vokalis perempuan yang melafalkan angin sorga, angin sorga. Ketidaknyamanan yang semakin bertambah sebab musik rock yang diputar itu hanya didengarkan oleh udara dan debu-debu. Sang pemutar musik, yang juga tawanan di penjara rumah tua itu sedang tidur dan mendengkur dengan begitu sumbang. Wajahnya memunggungi arah pintu.

“Sarapan.. sarapan,” kata Pelle agak keras untuk membangunkan kawannya itu.

“Ini lo le, masakan mbok kesukaanmu,” kata Pelle duduk di tepi kasur dan mulai membuka rantang makanan yang dibawanya.

“hmm… apa lo kek?” timpal orang itu dengan suara malas dan masih mempertahankan posisi duduknya.

“Lodeh tahu tempe, plus tempe goreng agak gosong seperti biasa.”

Orang itu menggeser tubuhnya dan menghadapkan wajahnya yang masih kisut kepada temannya. Sambil telentang, diregangkannya otot-otot tubuhnya. Dan juga tidak lupa dia baui bau lezat masakan nenek Pelle yang sudah seperti neneknya sendiri.

“Mbok piye kabare kang?” tanya orang itu sembari duduk dan mulai mengambil rantang yang berisi nasi.

“Alhamdulillah, masih pinaringan sehat. O ya ada pesan dari simbok katanya jangan terlalu sering mengurung diri, jangan lupa mandi minimal sehari sekali, jangan menunggu sampai tubuh benar-benar pliket lengket, terus yang terakhir…”

“Phh, banyak benar pesan simbok,” cerocos orang itu yang mulutnya sudah dipenuhi dengan makanan yang dikunyahnya.

Pelle hanya mengamati tingkah kawannya yang sedang makan itu, sangat belepotan tidak seperti biasanya. Ada sebulir nasi di pipi kanannya dan di jenggotnya tampak kuah lodeh warna kuning yang berleleran. Pelle tersenyum sebelum kembali melanjutkan kata-katanya yang sempat terinterupsi:

“Kalau makan pelan-pelan. Sudah bismillah durung?”

“Sudah” kata orang itu sambil menepuk dadanya satu kali. “Pesan mbok yang terakhir itu tadi lho apa kek?”

“Ya katanya cepat cari pendamping hidup; seorang perempuan. Biar hidupmu itu lebih berwarna dan lebih asyik dan tidak suram.”

Senyuman sinis terpancar dari wajah orang itu dan pandangan lekat tepat ke arah pandangan mata Pelle benar-benar memancarkan kesan meremehkan. Pelle yang sadar dengan ekspresi wajah itu membiarkannya begitu saja dan melanjutkan wejangan atau pesan neneknya:

“Menurut terawangan mbok, setidaknya ada empat perempuan yang pantas dan cocok untuk menjadi pendamping hidupmu.”

Kali ini wajah orang itu menanggapi pernyataan ini dengan agak serius, meski masih terdapat sebelah mata (mata kanan) yang terpicing tajam, yang menandakan dia sedang mempertanyakan kebenaran pernyataan kawannya itu. Meskipun lagi-lagi Pelle menyadari ekspresi itu, Pelle tetap melanjutkan kata-katanya:

“Pertama, semangka berkulit hijau yang buah di dalamnya telah benar-benar merah. Rasa manis dan segarnya buah itu bisa menjadikan hidupmu yang hambar lebih gemerlap.”

“Asem!”

“Kedua,” kata Pelle lagi sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V yang menyolok mata.

“Alpukat. Al itu adalah all yang berarti semua. –pu itu punya. Sedangkan –kat pikat. Maksudnya semua perempuan yang memiliki pikatan dan keterpikatan sejati terhadapmu.”

“Joh, terlalu jelas!”

“Ketiga”, Pelle mengangkat tiga jarinya tinggi-tinggi. “Jeruk nipis…”

Pelle terdiam dan memikirkan tentang makna yang tepat untuk jeruk nipis.

“Lambat kang othak-athikmu. Bisa tak lulus ujian lo”.

Othak-athik piye lo. Ini terawangan simbok,” Pelle memasang wajah yang diserius-seriuskan.

“Ya, meskipun aku tak percaya, tapi tetap iya. Terus apa itu tadi jeruk nipis?”

“Ah, buyar pikiranku. Langsung yang keempat saja,” kilah Pelle.

“Leh, your eyes kang!

“Sudah lah. Langsung yang keempat saja,” rajuk Pelle.

“Yo wis. Apa yang keempat kek?”

“Jambu merah. Kalau yang ini tanpa aku jelaskan, kamu pasti sudah mengerti.”

“Jambu merah?” kata orang itu dengan nada sendu yang disertai helaan napas yang dalam.

“Ya jambu merah,” tegas Pelle tersenyum lembut.

*********

Jambu merah merupakan sebuah tanda kenangan. Bentuk alaminya akan membusuk, terkoyak-koyak oleh gigitan-gigitan gigi bergerigi yang akan mengirimnya menuju saluran pencernaan. Namun tanda itu tidak akan membusuk sebab disimpan di dalam memori pikiran yang selalu mengalami penyegaran setiap saat serta diresapi oleh kedalaman-kedalaman yang muncul dari relung perasaan.

Perasaan yang pernah mengalami sebuah citarasa cinta yang sederhana, sebuah cinta yang tidak terlalu atau bahkan mungkin tidak sama sekali memperhitungkan tentang kerumitan laba dan rugi, sebuah cinta yang mengalir dan bergerak secara alami, tanpa pikiran mengetahui dan menyadari bahwasanya gerak yang terpapar tersebut adalah sebenarnya cinta.

Cinta yang tidak mengada-ada dan tidak perlu ada sebuah goda yang menggurita untuk menjerat perasaan seseorang untuk jatuh ke dalam sebuah lembah pelukan yang gersang dan gemuruh kecupan yang mencekik tenggorokan. Cinta kanak-kanak yang ceria.

Saat itu adalah hari di antara hari-hari yang biasanya. Nama harinya bisa lupa. Namun kenangan di seputar tanda yang berupa jambu merah itu tidak akan terlupa. Jambu merah itu dipetik dari halaman belakang rumah mbok dhe Masiya, seorang janda tua yang tidak memiliki anak.

Anak-anak tidak perlu meminta izin saat itu untuk mengambil apa saja yang ada di halaman rumahnya. Dhe Masiya selalu menganggap anak-anak yang juga belajar mengaji kepadanya itu adalah anak-anaknya sendiri dan dia juga memiliki harapan agar kelak salah satu dari mereka ada yang melanjutkan perjuangannya menjadi seorang guru mengaji yang memiliki kecakapan ilmu.

Begitu juga dengan Pelle dan bocah ini, kala itu mereka langsung menuju halaman belakang dan mulai memetik buah jambu merah yang telah menjadi target mereka sejak seminggu sebelumnya.

“Kamu saja ya kang yang memanjat,” kata bocah ini kepada Pelle. “Aku tidak berani.”

“Sudah aku duga,” desah Pelle memaklumi.

“Aku biar yang merontokkannya dari bawah, sekalian biar aku juga yang memunguti buah-buah yang jatuh ke tanah atau bahkan yang jatuh ke dalam peceren kolam lele itu.”

“Kreseknya sudah siap?” tanya Pelle memastikan sebelum mulai memanjat.

“Siap kang”.

Pelle memanjat pohon jambu merah itu dengan begitu lincah. Batang utama telah dilaluinya dan dia menuju kepada cabang kiri di mana ranting-ranting yang di sana dipenuhi dengan buah-buah yang warnanya sangat menggiurkan, tidak seperti di cabang kanan, merahnya belum terlalu menggiurkan, di sana terlalu banyak energi yang tertahan, mungkin membutuhkan tiga sampai lima hari lagi menuju kematangannya yang paling paripurna.

Sementara Pelle mulai menjatuhkan buah-buah dari atas pohon, kawannya ini benar-benar sibuk memunguti buah-buah yang jatuh ke tanah. Setiap buah yang jatuh dia bersihkan terlebih dahulu dengan mengelap permukaannya dengan bajunya yang baru saja ganti siang ini sebelum memasukkannya ke dalam sebuah kresek merah yang besar.

Buah-buah yang jatuh ke peceren kolam lele pun tidak luput dari kesigapannya. Dia menggunakan sebilah bambu panjang yang dia gunakan untuk menepikan jambu merah itu sebelum dia memungutnya langsung dengan tangannya. Sebelum dimasukkan ke kresek buah-buah yang jatuh ke peceren itu dia basuh dengan air bersih dari sumur dhe Masiya yang terletak tidak jauh dari pohon itu.

Dia tidak ingin orang-orang yang akan memakan buah jambu merah itu terserang penyakit yang tidak mengenakkan perut. Terutama, tentu saja, perempuan berambut merah.

*********

Jambu merah itu saat ini sedang menunggu untuk dipetik. Buah-buahnya telah begitu matang. Bahkan ada beberapa yang telah jatuh ke tanah dengan sendirinya karena tidak betah dengan kerapuhan yang mulai melanda. Buah-buah itu telah merindukan sentuhan dan petikan tangan manusia dan berharap suatu saat benar-benar manusialah yang memetik mereka bukan sekumpulan kalong atau seekor monyet piaraan yang tiba-tiba lepas dari kekangannya.

Namun anak-anak jaman sekarang terlalu disibukkan dengan piaraan baru mereka yang justru memelihara balik mereka dengan candu yang bernama kecanggihan gawai pintar masa kini. Anak-anak banyak yang terlalu malas bersentuhan dan bermesraan dengan alam secara langsung. Sedangkan bagaimana dengan orang dewasa?

Orang dewasa tampaknya sama saja. Candu gawai jelas lebih menggoda, lebih mampu menghipnotis pikiran untuk sejenak beristirahat setelah bekerja membanting tulang dan memeras keringat hingga perasannya menguap ke dalam kehampaan entah di mana.

Beruntung masih ada dua orang ini; Pelle dan kawannya yang sedang mengendap-endap di halaman belakang rumah dhe Masiya. Mereka jelas bukan anak-anak lagi. Pelle yang bertubuh dan berwajah kekar, dari penampilannya sah-sah saja bila orang-orang beranggapan dia telah memiliki setidaknya seorang istri dan dua orang anak yang masih balita, meskipun kenyataannya dia adalah seorang perjaka sejati.

Sedangkan kawannya ini, yang rambut gondrong sebahunya tengah dikucir seperti ekor kuda, yang brewoknya menutupi kerutan-kerutan di seputar pipi itu bagaikan sesosok filsuf gelandangan. Tubuh kurusnya benar-benar dipamerkan dengan memakai kaos oblong warna kuning yang terlalu longgar.

“Ini , jadi benar-benar mencuri, kita,” kata Pelle agak ragu saat telah berdiri di bawah pohon jambu merah itu.

“Jadi, kenapa?” balas kawannya itu sambil mengisap rokok kreteknya.

“Tidak apa-apa. Hanya merasa tidak nyaman. Dhe Masiya lho selalu baik sama kita sejak dulu kala. Sejak kita masih bocah ingusan. Apa tidak lebih baik minta izin saja?” Pelle mengungkapkan ketidaknyamanannya.

“Masalahnya kita bukan bocah ingusan lagi. Kita sudah menjadi orang dewasa yang sudah mampu menahan ingus itu agar tidak berleleran sembarangan. Kita adalah orang dewasa yang mampu menahan ingus itu agar tetap berada di dalam rongganya. Kita jugalah orang dewasa itu yang dengan sekehendak kita akan membiarkan ingus-ingus itu berleleran agar kedamaian semu di sini itu sedikit lebih menjijikkan.” Asap dan kata-kata mengepul secara bersamaan.

“Baiklah, sekehendakmu, dan dengan kehendakmu ini, apa harus aku lagi yang memanjat pohon?”

“Ya, jika kamu berkehendak. Telah kuputuskan aku tetap berada di bawah sini”.

Pelle mendesah dan setelah itu mulai menyulut rokok filternya. Sebelum memanjat pohon jambu merah itu mulutnya komat-kamit mengucapkan doa di dalam hati. Setelah benar-benar yakin dengan doanya dia mulai memanjat dengan mendahulukan kaki kanannya yang sedikit lebih panjang daripada kaki kirinya.

Kali ini dia tidak memanjat ke cabang kiri, namun beralih memanjat ke cabang kanan yang menurut pengamatannya lebih banyak jambu merah yang sudah matang di sana. Juga berdasarkan keyakinannya bahwa yang kanan selalu lebih daripada yang kiri.

Sementara Pelle berada di atas pohon dan bergelut dengan semut-semut merah yang memenuhi batang-batang dan ranting-ranting pohon itu, kawannya sibuk di bawah. Dia menyiapkan sebuah tompo di bawah pohon dan memberikan tanda kepada Pelle untuk menjatuhkan buah-buah yang dia petik tepat ke dalam tompo itu.

Tidak mau kalah dengan Pelle yang memetik jambu merah di cabang sebelah kanan, dia mengambil sebilah bambu panjang dari gudang kayu dhe Masiya. Dengan bambu itu dia merontokkan jambu-jambu merah yang berada di cabang kiri secara acak dan brutal tanpa mempertimbangkan apakah buah-buah tersebut sudah benar-benar matang atau belum.

Dia tidak ambil pusing apakah buah jambu merah yang dia petik itu benar-benar merah atau tidak. Di dalam benaknya, yang merah itu bukanlah sebuah warna yang bisa dilihat oleh mata, yang merah adalah hasratnya untuk memetik dan kemudian akan memberikan petikannya itu untuk seseorang yang sedang masih dia kasihi; Mera.

 

*********

Pelle dan kawannya itu baru saja selesai memilih dan memilah jambu-jambu merah ini yang akan mereka bawa untuk berpesta di rumah Mera. Jambu-jambu yang mereka pilih tidaklah semuanya adalah jambu-jambu yang benar-benar matang. Ada jambu yang masih belum matang, yang isinya masih terlalu keras untuk dinikmati, ada yang masih setengah matang di mana kehambaran rasa masih tersisa di antara asam manis- asam manis rasa di sana.

Bahkan lelaki nyentrik itu bersikeras dan beradu alasan dengan Pelle, yang akhirnya menyerah dan hanya mengiyakan, untuk membawa dan memberikan beberapa jambu merah yang sudah membusuk. Kulit luarnya di beberapa bagian sudah terlihat menghitam. Semua jambu yang telah terpilih itu dia masukkan ke dalam sebuah kresek berwarna hitam putih berukuran besar.

“Kamu dengar suara motor berhenti di halaman depan?” tanya Pelle yang agak khawatir.

“Ya, aku dengar,” jawab lelaki itu sembari sedang mengikat kedua telinga kresek merah hitam itu.

“Dhe Masiya mungkin.”

“Lalu bagaimana ini nanti bila ketahuan?” kegusaran Pelle terdengar jelas dari nada bicaranya.

“Tidak apa-apa ketahuan,” kata lelaki itu mulai berdiri dan menjinjing kresek hitam putih itu dengan tangan kanannya yang membuat tubuhnya doyong. “Kita sudah meninggalkan secara diam-diam jambu-jambu di dalam tompo berwarna coklat itu.” Satu ikatan terakhir dan,”Ayo wis, berangkat.”

Pelle mempersilakan kawannya itu untuk berjalan di depan dan lebih memilih menguntit dari belakang. Sesaat kemudian dia merasa terganggu dengan jalan yang dipilih kawannya itu. Daripada mengikuti saran Pelle untuk meloncat dari pagar halaman belakang yang hanya satu setengah meter itu, lelaki itu memilih lewat jalan biasa, melewati jalan setapak menuju halaman samping dan secara terbuka menuju halaman depan di mana dhe Masiya di sana sedang menggunakan gawai pintarnya untuk menelepon seseorang.

Mereka berdua berjalan melewati dhe Masiya, dan pura-pura tidak mengetahui keberadaan dhe Masiya yang sedang berdiri di ambang pintu. Keberadaan dhe Masiya seolah-olah hanyalah bayangan sosok hantu masa silam yang telah terkubur di dalam gumpalan lemak-lemak yang terkadang menyuntikkan citarasa stroke yang menjengkelkan, atau mungkin malah menakutkan mengingat banyak orang yang meninggal karena serangan penyakit ini yang biasanya mendadak karena penderitanya tidak pernah memperhitungkan akumulasi hingga ke akar-akarnya.

Dan, serangan itu tiba-tiba seperti menghentak tubuh mereka berdua, terutama Pelle, ketika terdengar panggilan dhe Masiya untuk mereka, padahal mereka hampir akan berada di jalan utama.

“He, kalian berdua, kenapa itu? apa yang kalian bawa itu?” Dhe Masiya berkata agak keras memperhitungkan jarak dengar.

Mereka berdua berhenti, berbalik arah, namun tidak berjalan kembali ke arah dhe Masiya. Dhe Masiya yang berjalan menghampiri mereka, memaksakan tubuhnya yang berat untuk memastikan apa yang dibawa oleh kedua orang mantan murid mengajinya itu. Pelle tersenyum cengengesan, sedangkan kawannya itu menghela napas panjang untuk menyiapkan skenario percakapan apa saja yang mungkin akan dihadapinya. Dia berpura-pura untuk tenang dan itu benar-benar berhasil menenangkannya.

“Apa itu?” dhe Masiya menunjuk kresek hitam putih yang dijinjing itu.

“Ini jambu merah dhe,” jawab lelaki itu.

“Darimana?”

“Dari kebun belakang.”

“Mencuri ya?” dhe Masiya mulai menghardik.

“Tidak dhe. Ini sekedar mengambil jatah.”

Pelle masih diam sambil cengengesan dan sesekali menggaruki bagian belakang kepalanya.

“Jatah?” Dhe Masiya matanya semakin mendelik. “Jatah apa maksudmu?”

“Begini dhe,” kata lelaki itu setelah kembali menghela napas panjangnya. “Saya teringat 20 tahun yang lalu, bahwasanya panjenengan pernah berkata bahwa segala sesuatu yang ada di kebun panjenengan, terutama di kebun belakang, dan lebih terutama lagi adalah jambu merah yang tumbuh di sana, panjenengan wakafkan kepada anak-anak panjenengan yang belajar mengaji di sana. Saya belum lupa itu lho dhe, meskipun anda mungkin sudah melupakannya.”

Dhe Masiya menggali memori kenangan di dalam pikirannya dan tidak menemukan perkataan-perkataan apapun yang mengandung pengertian seperti yang baru saja dituturkan. Hanya saja karena perbuatan mewakafkan itu mengandung sebuah makna kebaikan, dia merasakan setengah kepercayaan terhadap orang itu, sebuah rasa yang setengah, yang kemudian semakin dipenuhi dengan prasangka-prasangka baik yang akhirnya benar-benar memenuhi ruang kepercayaannya bahwa perkataan itu benar-benar nyata. Dhe Masiya agak terbujuk. Namun dia teringat kembali.

“Tapi kalian berdua sudah bukan anak-anak kan? Lihat wajah kalian yang bahkan terlihat lebih tua dari wajahku. Lalu kamu.. berapa tahun kamu tidak pernah keluar rumah hingga penampilanmu seperti monster itu; gondrong, brewok, liar. Lalu kamu? Kamu siapa?” cerca dhe Masiya dengan sedikit jeda untuk mengambil napas.

“Saya Pelle dhe, dulu yang paling sulit diajari mengaji,” Pelle malu-malu.

“Ah, aku kok lupa. Kamu ini.. ya, kamu ini aku yang masih ingat. Sepertinya kamu ingin bicara. Ingin mengutarakan alasan?” selidik dhe Masiya.

“Iya dhe, saya ingin mengutarakan alasan, sebelum ia akan karam di selatan.”

“Apa alasanmu?”

“Begini dhe, jadi memang kami ini bukan anak-anak lagi secara fisik. Tapi secara ikatan, kami tetaplah anak-anak panjenengan yang pernah mendapatkan pengajaran dari panjenengan. Dan panjenengan tetaplah ibu bagi kami, meskipun kali ini tidak mungkin lagi bagi panjenengan untuk ngenyihi kami lagi. Jelas, sebagai seorang yang dewasa, kami punya arah dan tujuan kami sendiri yang semoga tidak bertentangan dengan apa yang menjadi harapan orang-orang tua termasuk panjenengan.”

 

Dhe Masiya mendengarkan penjelasan itu dengan seksama. Sekali-sekali dia memperhatikan Pelle yang hanya manggut-manggut. Dhe Masiya merasa terharu diakui sebagai orang tua bagi orang-orang yang juga semakin tua ini. Dia merasa keberadaannya di dunia lebih berarti dari sekedar sepi.

Sebuah jeda yang hening.

“O ya masih ada lagi dhe yang ingin saya utarakan. Mungkin ini adalah perpisahan. Kalau saya akhir-akhir ini bersikap terlalu nyentrik dan meresahkan semua orang, saya minta maaf. Saya hendak pergi melamar seseorang dhe dengan jambu merah yang saya petik dari halaman belakang rumah panjenengan.”

“Perpisahan? Melamar? Maksudmu itu bagaimana to le?”

“Tidak ada maksud dhe. Mohon doa restunya.”

Sebelum dhe Masiya sempat berkata-kata lagi, lelaki itu memegang tangan perempuan tua itu, menyalami dan mencium punggung tangannya yang sudah mengkerut. Setelah beberapa saat, dia berdiri tegak kembali dan memandang lekat kedua bola mata dhe Masiya.

“Terima kasih dhe.”

Lelaki itu segera berbalik dan menjinjing kembali kresek hitam berisi jambu-jambu merah yang akan dia bawa untuk diberikan dan dinikmati bersama seorang perempuan yang memiliki rambut berwarna merah. Sedangkan Pelle, sebelum mengikuti kawannya itu dia sempat memberitahu dhe masiya tentang jambu-jambu merah yang berada di sebuah tompo coklat yang diletakkan di sekitar tempat kayu-kayu bakar. Dhe Masiya sendiri hanya bisa memandangi punggung-punggung tubuh bongsor itu. Keharuan itu masih tersisa.

 

*********

Di perjalanan sosok Mera hadir di dalam benak lelaki itu dengan tingkat intensitas yang begitu terasa. Wajahnya yang putih langsat namun beraut muka pribumi dengan hidung yang biasa-biasa saja, bibir yang juga biasa-biasa saja memenuhi ruang imajinasinya. Dan, terutama rambut merahnya. Rambut itulah yang menjadi mahkota yang menutupi kepala yang di dalamnya bersarang sebuah otak yang menjadi sarang bagi remah-remah intelegensia yang mempesona; kecerdasan adimanusia untuk menyingkap tabir kehidupan dunia dan alam semesta.

Kedua kakinya yang telah lama tidak dia gunakan untuk bergerak berjalan dengan jarak tempuh yang lumayan jauh terasa berat dan letih. Namun, pemberhentian bukanlah terletak di tengah-tengah jalan. Pemberhentian selalu berada di titik akhir di mana sosok yang penuh pesona itu diharapkannya akan memeluknya dengan sebuah kehangatan yang mematikan; sebuah kehangatan yang lebih hangat daripada sekedar kehangatan yang ditawarkan oleh tubuh.

Dan untuk harapan itu, dia telah dengan seksama menyiapkan sebuah jalan buntu yang akan dia tembus dengan sebuah gedoran, pukulan dan tendangan yang akan meluluhkan tembok-tembok di sana; sebuah lamaran perpisahan dengan mahar sekresek jambu merah yang tidak semuanya matang.

Perlahan-lahan rumah Mera semakin mendekat, dan dari jaraknya kini dia dapat melihat pintu gerbang rumahnya yang bercat abu-abu. Pagar rumah yang mengelilingi rumah itu pun juga bercat abu-abu, dan di bagian luar pagar itu terdapat sebuah gundukan abu sisa-sisa sampah yang dibakar tadi pagi. Jalanan tempat dia melangkahkan kaki juga beraspal abu-abu.

Dan, tentang abu-abu ini, sebuah pemikiran masuk ke dalamnya melalui jalan ketidakjelasan, sebuah ketidakpastian yang merupakan kepastian yang paling unik, yang dipenuhi dengan pernak-pernik tanda-tanda yang memintakan ampun untuk segala keberadaan semesta fana.

Pintu gerbang itu terbuka, dan dengan keraguan yang menyelimuti benaknya dia tetap melangkah maju, diikuti oleh Pelle yang sedari tadi nyerocos tentang aksi mencuri jambu, dan curiga kepada kawannya yang mungkin kali ini hendak juga mencuri Mera; perempuan berambut merah itu.

“Sebentar,” Pelle menepuk pundak kawannya itu.

“Ada apa? Tolong jangan menambah keraguan yang sekarang ada pada diriku.”

“Kamu tidak akan mencuri Mera kan? Seperti mencuri jambu merah dhe Masiya.”

“Jika dia menghendaki, dengan setengah keraguan dan setengah keyakinan, maka ada kemungkinan akan ada pencurian itu. Kenapa?”

“Jangan aneh-aneh. Seluruh orang kampung itu mengawasi gerak-gerikmu, dan aku sebagai, katakanlah pengawalmu, harus berkata apa nanti untuk tetap menjaga nama baikmu?”

“Ah iya, maafkan saya,” tanggap lelaki itu dengan sedikit acuh. “Bisa kita mulai mengetuk pintu rumah itu?”

“Baiklah.” Kali ini Pelle yang maju ke depan dan mengetuk pintu. Setelah empat rangkaian ketukan dan ucapan salam kulanuwun yang antik akhirnya pintu itu dibuka. Dan sesuai harapan, yang ada di ambang pintu sekarang adalah Mera, masih dengan wajah yang sama. Hanya saja tanda hitam di dagu itu kelihatan lebih menusuk, dan juga ada kain yang membalut kepalanya kini yang menutupi rambut merahnya yang membara.

“Ini Mera, orang gilamu, sesuai janjiku,” tutur Pelle yang mengernyitkan dahi kawannya. “Aku tinggal dulu, jaga dia baik-baik, jangan biarkan dia mencurimu.”

 

*********

Seluruh pintu di rumah itu telah ditutup. Begitu juga dengan jendela-jendela. Kelambu berwarna biru pekat telah menjadi tabir penghalang bagi mata-mata dari luar untuk menengok sesuatu di dalam. Mera mengundang lelaki itu untuk masuk lebih ke dalam, ke suatu ruangan yang benar-benar rahasia di bawah tanah. Mera akan menunjukkan keseluruhannya hingga lelaki itu hanya akan bisa mengikuti dari belakang dan terpukau dengan setiap langkah tubuh yang melekuk dan meliuk. Sepenuhnya dia tidak akan bisa apa-apa. Cahaya di sana terlampau sedikit sehingga dibiarkannya tangan Mera menuntunnya untuk menjelajahi setiap jengkal keremangan di ruangan itu. Setelah sampai di pojok ruangan yang paling dasar kedua orang itu berhenti.

“Sekarang kamu mau apa? Apa tadi yang kamu bawa? Kamu tinggalkan di mana tadi?” tanya Mera di antara keluhan napasnya yang masih terengah.

“Aku ingin melamar kamu dengan jambu merah yang tadi aku bawa. Aku meninggalkannya tadi di kolong meja di ruang tengah,” jawab lelaki itu mengejar kesahnya yang terbata-bata.

“Apakah kamu serius?” Tatapan Mera semakin lekat.

“Jangan salah paham. Aku melamar untuk sebuah perpisahan. Aku ingin segala kenangan dan bayangan, dan juga harapan itu berada di dalam suatu wujud metamorfosa yang dilingkupi oleh perasaan hampa. Aku ingin merantau. Dan aku ingin kamu rela.”

Keheningan menyeruak. Mera masih menatap lekat wajah lelaki itu yang kini sedang memalingkan mukanya ke arah lengan Mera yang putih. Ada kesembapan di matanya. Keluh napasnya kini disertai dengan sedikit sentrupan yang mendengung di hidungnya. Namun, dari wajahnya ada sesuatu yang tetap saja dipaksakan. Mera masih memaksakan dirinya untuk tersenyum kepada orang gila itu.

“Baiklah, aku juga ingin memberitahumu sesuatu,” suara Mera parau.

“Aku sudah tahu,” lelaki itu kembali menatap wajah Mera. “Dan untuk itu aku hanya ingin datang merayakannya dengan sebuah lamaran perpisahan. Dan, untuk yang terakhir kali, aku ingin kamu terdiam, dan cukup nikmati saja setiap keluhan.”

“Baiklah…”

Kata-kata Mera tercekat oleh sebuah kecupan di bibirnya. Dia memilih diam dan mengganti kata-katanya dengan sebuah laku ciuman bibir yang lebih terasa hangat. Ada rasa jambu merah yang benar-benar campur aduk di dalam ciuman itu.

 

***************************************

Cerpen ini pertama kali dimuat pada:

https://sastratepian.blogspot.com/2019/12/jambu-merah.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.