Penulis: Madchan Jazuli

Hampir memasuki dua triwulan sudah pandemi Covid-19 meluluh lantakkan sendi perekonomian. Demikian pula pendidikan nasional. Beragam jenis kebijakan dicetuskan supaya pendidikan tetap berlangsung sesuai amanat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dikutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana Satuan Gugus Percepatan Covid-19 Per 13 Agustus 2020 jumlah yang terpapar sebanyak 132. 816 positif, 87.558 sembuh, 5.968 meninggal.

Sedangkan di Jawa Timur,  terkonfirmasi 26.56 kasus positif, 19.548 sembuh, 5.060 dirawat, dan 1.953 meninggal. Bila dikonversikan kedalam prosentase,  73.60 persen sembuh, 19.05 persen dirawat, 7.35 persen meninggal, data ini diperoleh dari beranda facebook Pemprov Jawa Timur kemarin (13/08)

Pemprov Jawa Timur berencana memulai kegiatan tatap muka di sekolah pada 18 Agustus 2020 mendatang, itu sesuai dengan surat edaran 9 Agustus lalu. Namun yang harus diperhatikan adalah kegiatan luring tersebut dibatasi sesuai tingkat prosentase zonasi persebaran kasus Covid-19. Misalnya, daerah kuning  tidak lebih dari 50 persen dan oranye tidak lebih dari 25 %. Aturan tersebut menilik intruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa syarat awal pembelajaran tatap muka, satu kelas maksimal diisi separuh jumlah siswa (Jawa Pos 10/8).

Berdasarkan data lain, dari American Academy of Pediatrics menunjukkan terdapat  338.982 kasus Covid-19 yang terjadi pada anak (0-24 tahun). Sekitar 8,8 persen dari semua kasus Covid-19 yang melanda negara adidaya tersebut.

Memang tidak bisa disamakan Indonesia dengan negara lain, yang notabene memiliki penanganan yang berbeda. Perlu kewaspadaan dalam memutusan suatu kebijakan.

Setelah beberapa bulan dilaksanakan pembelajaran daring, banyak masalah yang harus ditemukan solusi. Beberapa kendala yang dihadapi baik siswa, guru dan orang tua. Ada yang mengeluhkan jaringan internet yang tidak memadai di pelosok desa, maupun pelosok pegunungan. Jangankan signal internet, signal general operator saja harus dibantu dengan alat buatan (seperti: tutup panci, tembaga). Belum masalah kesibukan orang tua yang mencari nafkah, hingga tak sempat untuk sekadar menemani buah hati dalam pembelajaran daring.

Poin yang terakhir adalah kendala tentang materi. Guru dituntut menuntaskan materi, bagaimanapun caranya. Terlepas si murid benar-benar mengerti sekaligus menghayati, atau bahkan sebaliknya. Banyak anak terlanjur sudah kecanduan game online daripada harus duduk mendengarkan materi via daring.

Anak Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas se-derajat dalam segi kesiapan mental dan keseharian sudah cakap dalam menggunakan gawai. Namun bagi anak se-usia Sekolah Dasar masih banyak yang belum terlalu siap dari segi psikomotorik.

Pengalaman ketika mendampingi adik, jika sudah memegang gawai, kemudian muncul dari grup whatsaap “Wali Murid Kelas II” langsung terlihat gupuh (red: panik). Memang awalnya mulai membaca satu per-satu, setelah tampak jepretan foto tugas yang banyak langsung sambat (red: mengeluh). Saya masuk untuk mengsuppoart mentalnya, membangunkan kesadaran bahwa itu tidak sesulit yang ia bayangkan.

Kebanyakan anak akan cenderung berpangku tangan dalam proses pengerjaan. Itu terjadi karena penguasaan materi si anak kurang. Amat sangat kurang.

Bagaimana dapat mengerjakan, jika materi tanpa pemahaman?

Sembari menunggu proses demi proses yang dijalani selama masa pandemi, alangkah baiknya begini.

Pertama, memberdayakan sebaran mahasiswa yang berada di desa-desa. Bisa menjadi volunteer. Paling tidak menemani anak dalam proses belajar serta pengerjaan tugas. Tetap anak yang mengerjakan, dengan membantu sedikit semisal memberikan gambaran atau kata kunci tertentu.

Kedua, orang tua harus perhatian dengan anak selama pembelajaran daring. Penulis akui pekerjaan berat. Subuh-pagi-siang-sore sudah terkuras dalam mengurus rumah tangga, harus dibebani memberikan materi seperti apa yang disampaikan guru.

Bukannya mudah?

Mudah bagi yang orang tua yang berpendidikan. Sangat tidak bisa bagi yang orang tuanya hanya lulusan sekolah duwur alias SD. Pada zamannya belum ada mata pelajaran tematik, lingkungan hidup ataupun English for Elementary School. Peran ini bisa diambil alih oleh volunteer di atas.

Jika memang benar tidak mampu, orang tua disini bisa memberikan spirit mental. Terus memberikan semangat, perhatian, menumbuhkan mindset bahwa “Kamu pasti bisa naak…!”

Lantas bagaimana materi dapat dimengerti dan dipahami?

Proses.

Lha kok begitu?

Kita lihat saja murid yang berada di kelas yang sedang menerima materi ataupun sedang berdiskusi. Tak semua masuk kedalam materi. 50 persen dimengerti sudah lumayan bagus sekali. Interaksi langsung dengan tak langsung memiliki sekat. Jauh sekali.
Mengambil dari Hanna Jumhana B. (dalam H. Soemarsono; 2008:16) bahwa karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengornanan, pengaruh lingkungan dan dipadukan dalam nilai-nilai yang ada dari dalam manusia.

Dari dasar itu kita kembali bahwa seberapapun materi yang tersampaikan, takkan berarti jika anak kehilangan karakter. Karakter yang bagaimana? Yang jelas menjadi jati diri si murid dengan terus belajar, belajar, belajar, berproses mengembangkan minat bakat yang dimiliki untuk sebuah prestasi.

Layang-layang berlari menggambarkan jiwa motorik anak seperti layang-layang. Sulit untuk anteng (red:tenang). Bisa sih, waktu akan pulang dengan sikap sempurna duduk manis. Itupun hanya 10 sampai 20 detik.

Semoga Covid-19 lekas berakhir. Generasi bangsa sudah haus akan belajar tatap muka sedia kala. Tumbuhlah tunas-tunas bangsa. Kita kuat, bangsa pejuang hebat.

Leave a Reply