Penulis: Dafa Achmad Ardian, Banyuwangi

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat yang melimpah hingga detik ini. Sholawat serta salam semoga tetap dilimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin mengulas tentang perbedaan pendapat dalam beragama. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa dalam beragama masih saja ada perbedaan pendapat, kan yang disembah satu? Kenapa ada perbedaan, padahal itu pasti berujung pada perpecahan?, Apa Allah tidak sayang kita, makanya di buat berbeda- beda?, dan banyak yang lain sebagainya.

Kali ini saya ingin mencoba untuk menjelaskan tentang perbedaan-perbedaan itu, dengan tujuan membuka pikiran pembaca supaya mengerti mengapa ada perbedaan. Semoga Allah senantiasa membimbing saya dalam menyelesaikan tulisan ini dan pada umumnya meridhoi pembaca tulisan ini.

Perbedaan dalam berpendapat itu sudah wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Karena di dalam perbedaan pendapat itu kita bisa memilih manakah yang sesuai dengan kondisi kita, tapi harus di perhatikan juga tingkat kemudorotannya (merusaknya) terhadap diri kita maupun orang di sekitar kita. Jika tingkat kemudorotannya lebih besar daripada kemaslahatannya, lebih baik jangan kita ambil pendapat itu.

Sebagaimana diketahui bahwa perbedaan di dalam berbagai pendapat ijtihadiyah akan memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih yang sesuai dengan keadaannya maka dari sinilah muncul berbagai madzhab fiqh yang kita kenal dan bersikap taqlid kepada madzhab mana pun maka diperbolehkan dan tidak ada kesempitan didalamnya. (Fatawa Al Azhar juz VIII hal 209)

Jangan kita menjadi orang yang terbutakan oleh satu pendapat saja, karena itu akan menimbulkan kefanatikan dan menuju ke perpecahan. Fanatik itu boleh, tapi jangan bodoh dalam kefanatikan, tapi cerdaslah anda dalam kefanatikan itu, sehingga anda dapat menerima pendapat orang lain dan tidak men-judge pendapat orang lain salah kecuali mereka yang ikut dalam golongan ini. Janganlah kita menjadi seperti yang di katakan Allah dalam surat al-Mu’minun ayat 53

فَتَقَطَّعُوٓا۟ أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍۭ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Artinya: ”Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”

Maksud dari ayat di atas adalah mereka bangga atas kesesatan yang ada pada diri mereka, karena mereka merasa bahwa merekalah yang mendapat petunjuk. Itu dikarenakan mereka di butakan oleh kefanatikannya, mereka menutup telinga mereka terhadap pendapat orang yang bukan dari golongannya.

Padahal Rasul SAW bersabda bahwa ikhtilaf diantara umatku itu rahmat. perbedaan dalam pandangan itu berarti kita mensyukuri nikmat Allah, karena telah memberi kita akal untuk di gunakanan dalam mencari cara menuju Allah SWT.

Dahulu zaman Nabi Muhammad SAW semua masalah itu langsung di tanyakan kepada beliau, jadi tidak ada ikhtilaf sama sekali pada zaman itu. Jadi wajarlah kita sekarang yang hidup di zaman setelah wafatnya Rasul SAW banyak sekali perbedaan pendapat, karena memang kita butuh mencari cara yang cocok dan mudah bagi kita untuk dapat menuju rahmat Allah SWT. Dan memang Allah tidak mau membebani hambanya dalam mencari rahmat-Nya.

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya:”Allah menghendaki kemudahan bagimu, tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Q.S al-Baqoroh: 185)

Maksudnya Allah tidak mau membuat hamba-Nya kesusahan dalam mengenal-Nya, dalam mencari rahmat dan ampunan-Nya. Tapi dalam artian tidak menghalalkan yang haram, maksutnya semua cara yang bisa kita tempuh dalam mencari ridho-Nya masih di dalam ketentuan-ketentuan-Nya (syariat agama islam).

Oleh sebab itu di dalam islam terdapat perbedaan madzhab. Seperti yang kita kenal, 4 imam madzhab yang populer: Imam Hanafi, Imam Malik, Imam syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Mereka menghabiskan hidupnya hanya untuk memahami agama Islam dengan sepenuhnya. Mereka memiliki pendapat yang berbeda satu sama lain, tetapi pendapat- pendapatnya semua disandarkan pada hadits Rasulullah SAW.

Mereka memiliki hujjah (alasan) dengan dasar yang sangat kuat. Tetapi mereka tidak pernah saling menjelek-jelekkan pendapat satu sama lain, tidak pernah membanding-bandingkan mana yang lebih unggul. Itulah yang membedakan kita dengan mereka. Mereka memiliki ilmu yang sangat luas dan mereka tidak pernah menjelek-jelekkan dan mereka tetap saling menghormati.

Sebaliknya, kita yang hanya memiliki ilmu yang sedikit dan tidak sebanding dengan mereka malah tertutup denga kebutaan kefanatikan, sehingga tidak mau menerima pendapat orang lain yang mungkin lebih baik dari pendapat kita dan kita malah menjelek-jelekkan pendapatnya.

Para imam madzhab memiliki pendapat yang berbeda-beda dikarenakan kondisi lingkungan tempat mereka tinggal. Mereka mencari cara yang cocok dengan lingkungan sekitarnya, supaya tidak menyusahkan para hamba Allah dalam mengenal Allah. Mereka mengahabiskan waktu siang malam hanya untuk memikirkan para hamba Allah. Jadi jangan pernah kita menjelek-jelekkan pengikut madzhab yang tidak sama seperti diri sendiri.

            Lalu mengapa tetap ada perbedaan pendapat, padahal itu menyebabkan perpecahan?. Sesungguhnya perpecahan itu dikarenakan kita sendiri yang tidak terbutakan oleh kefanatikan. Kita telah diberi akal oleh Allah SWT, gunakanlah akal kita dalam mencari cara untuk mengenal Allah, jangan malah hanya tertuju pada satu pendapat.

Tapi dengarkan semuanya dan ambilah yang cocok dengan diri kita, jangan tutup telinga. Allah sendiri tidak menghendaki kesusdahan pada hamba-Nya dalam mengenal-Nya. Kita diberi Allah akal untuk bisa digunakan berpikir bagaimana cara kita mengenal Allah, cara mencari ridho-Nya. Bukan malah digunakan untuk mencari cara bagaimana menghancurkan orang lain yang tidak sependapat dengan kita.

Pada intinya dari pembahasan di atas yaitu Allah SWT tidak menghendaki kesukaran bagi hamba-Nya, tapi menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Silahkan cari cara apapun untuk mengenal Allah lebih dekat. Salah satunya mengambil hasil pemikiran dari 4 imam madzhab yang telah kita ketahui,

Jangan sampai kita fanatik hanya satu pendapat seorang. Bukalah pikiran kita untuk menerima pendapat orang lain demi kebaikan diri kita sendiri. Ikhtilaf sampai kapanpun akan tetap ada di dunia ini, karena Rasul sudah tidak diutus lagi oleh Allah, dan Allah terus membimbing kita melalui al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasul. Semoga kita tetap berada dalam jalan yang diridhoi Allah SWT dan selalu mendapat bimbingan-Nya dalam menjalani hidup ini.

Semoga Bermanfaat

 

Leave a Reply